 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Khaled Hosseini |
Judul : Kite Runner Penulis : Khaled Hosseini Penerjemah : Berliani M.Nugrahani Tebal : 490 Halaman Penerbit : Qanita
Amir lahir dari sebuah keluarga berada dan bersuku Pashtun-suku terpandang di Afghanistan. Kejayaan sang Ayah membuat Amir hidup serba kecukupan. Dalam perjalanan kehidupan masa kanak-kanaknya hadir seorang Hassan. Anak pelayan keluarga Amir yang berasal dari suku Hazara-yang selalu diidentikkan sebagai warga kelas 2 di Afghanistan. Usia yang tak berbeda jauh dan kenyataan bahwa mereka sama-sama kehilangan ibu membuat Amir dan Hassan menjadi saudara sesusuan.
Antara Amir dan Hassan kemudian terjalin sebuah persahabatan dan kasih sayang yang tak lazim. Terasa tak lazim tentu saja karena kedudukan sosial mereka yang tak sederajat. Dengan sepenuh hati Hassan mengabdi kepada Amir, mengabdi kepada keluarga Amir sekaligus menganggap Amir sebagai sahabatnya. Di sisi yang berbeda, Amir tetap menganggap Hassan sebagai pelayannya, meski disadarinya kalau dia tetap membutuhkan Hassan sebagai seorang sahabat.
Amir tumbuh sebagai seorang anak yang lebih suka bergelut dengan buku dan cenderung menjauhi kegiatan yang bersifat fisik. Karena pilihannya itu pula, Amir musti berjuang keras memenangkan perhatian ayahnya yang lebih menghargai seorang anak lelaki yang punya kemampuan fisik yang menonjol. Terkadang rasa cemburu dan ego untuk memiliki sang ayah hanya untuknya membuat Amir musti “bertarung” dengan Hassan.
Sebagai seorang pelayan yang setia, Hassan pernah tampil dengan gagah berani membela Amir. Suatu tindakan yang sayangnya kemudian dibalas dengan penghianatan dari Amir. Amir dihadapkan pada dua pilihan, menjadi seorang pahlawan yang membalas pembelaan Hassan, atau menjadi seorang pengecut yang meninggalkan Hassan sendirian, akhirnya Amir memilih untuk menjadi seorang pengecut. Pilihan yang kemudian terus menghantui pikirannya bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.
Saat konflik batinnya makin tak tertahankan, Amir memilih menyingkirkan Hassan dari kehidupannya, berharap bayang-bayang kesalahan atas penghianatannya bisa menghilang. Sayangnya itu tak berujung pada kenyataan. Kepergian Hassan malah membuat sebagian dari dirinya terbang besama anging. Persis layang-layang putus.
Saat situasi di Afghanistan semakin tak menentu, Amir dan ayahnya memilih untuk memulai kehidupan baru di Amerika, meninggalkan kehidupan nyaman mereka di Kabul. Fase baru kehidupan ini membuat hubungan Amir dan ayahnya makin membaik, meski Amir masih saja terus dihantui kesalahan masa lalunya.
Suatu hari-bertahun-tahun setelah penghianatan itu terjadi- Amir memiliki satu kesempatan untuk kembali ke jalan kebaikan. Ada pertentangan dalam batinnya sebelum mengambil jalan itu, namun tekad untuk menghapus kesalahan masa lalu memaksanya kembali ke Kabul dan menebus penghiatan, dosa dan kesalahannya yang sudah lalu. Amir menemukan Kabul yang tak lagi sama, Kabul yang indah kini menjadi Kabul yang dipenuhi puing-puing. Namun, justru di tempat itulah dia menemukan arti sesungguhnya dari sebuah kasih sayang dan penderitaan.
******* Khaled Hosseini menulis dengan sangat apik sebuah cerita tentang persahabatan, kasih sayang, penghianatan dan penderitaan. Sebuah cerita yang indah dengan latar belakang kota Kabul pada khususnya dan Afghanistan pada umumnya. Negeri yang dulu indah namun kini lebih akrab dengan kehancuran dan puing-puing.
Karakter yang diciptakannya hampir tak ada yang sia-sia. Mulai dari karakter utama hingga karakter pembantu semua mempunyai peran yang sangat kuat dalam jalinan cerita. Konflik yang dibangunpun tak terasa dipaksakan meski tetap ada jalinan cerita yang agak susah untuk diterima logika.
Khaled juga mampu menampilkan deskripsi tentang Afghanistan dengan lumayan detail, membuat para pembaca mampu membuat gambaran sendiri tentang kota Kabul sebelum dan setelah peperangan. Melaui tangannya kita bisa menciptakan bayangan kita sendiri tentang kota yang selalu penuh dengan gejolak politik dan peperangan sejak tahun 70-an itu.
Terus terang saya menyukai gaya Khaled bercerita. Terkadang gaya berceritanya jenaka meski membuat miris. Alur besar cerita yang diciptakannya mampu membuat para pembaca untuk terpaku dan tidak sabar membuka halaman berikutnya. Meskipun sebenarnya klise, dan mungkin sering kita temui di buku lain atau di sinetron namun karena kemampuannya bermain kata-kata, Khaled mampu menghadirkan suasana yang berbeda pada “Kite Runner”.
Buku ini pernah menjadi #1 New York Times Bestseller dan mendapatkan anugerah Humanitarian Award 2006 dari UNHCR. Prestasi yang cukup pantas bila melihat jalan cerita dan cara bertutur sang penulis.
Untuk anda yang gemar akan cerita tentang persahabatan, kasih sayang, penghianatan dan penderitaan, maka buku ini mungkin cocok bagi anda. [DG]

 | Category: | Books | | Genre: | Sports | | Author: | Arief Natakusumah |
Judul buku : Drama itu bernama sepakbola Penulis : Arief Ntakusumah Penerbit : Elex Media Komputindo Tebal : 334 halaman + xxii
Suatu hari di sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia, ada sebuah karikatur yang cukup menggelitik. Di karikatur itu digambarkan sesosok alien (mahluk luar angkasa) yang terbengong-bengong menyaksikan ulah 22 orang lelaki penduduk bumi di atas sebuah lapangan berumput. Ke 22 lelaki dewasa itu terlihat begitu antusias berlarian ke sana kemari memperebutkan sebuah benda bulat dengan corak hitam putih. Yah, sang alien digambarkan begitu terbengong-bengong menyaksikan penduduk bumi sedang memainkan sepakbola.
Bila dilihat secara kasat mata, keheranan sang alien mungkin bisa dimengerti. Betapa tidak, 22 orang lelaki dewasa berbadan sehat tampak begitu bersemangat memperebutkan sebuah bola. Benda dari bahan kulit tersebut dikejar sekuat tenaga, tapi begitu ada di kaki benda itu kembali ditendang jauh-jauh. Sungguh sebuah perbuatan yang membingungkan.
Tapi itulah sepakbola. Sebuah cabang olahraga dengan jumlah penggemar terbesar di dunia. Saat ini diperhitungkan ada sekitar 3 miliar orang yang memainkan olahraga menyepak kulit bundar itu. Gema ajang 4 tahunan yang mempertemukan berbagai negara terbaik dari benua-benua yang ada di muka bumi ini kadang malah lebih terasa dari gema Olimpiade. Wajar saja bila di abad modern ini, sepakbola kemudian dijadikan sebagai ladang bisnis yang sangat menggiurkan.
Berbagai pernak-pernik dan drama di belakang sepakbola adalah sebuah kisah yang sangat menarik, bukan saja buat para penggemar sepakbola namun juga bagi semua orang yang mungkin tertarik untuk mengetahui kekerabatan dan hubungan yang erat antara sepakbola dengan politik, budaya dan ekonomi secara global. Dan buku setebal 334 halaman ini hadir untuk menceritakan berbagai kisah tersebut.
Sepakbola, identitas dan politik. Saat pertama kali sepakbola modern digagas dan kemudian disebarluaskan oleh orang Inggris ke segala penjuru dunia, mungkin tak ada yang mengira kalau suatu saat nanti sepakbola akan menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat yang memengaruhi banyak aspek kehidupan di dunia ini. Sepakbola tidak melulu hanya sebuah permainan, dia juga sekaligus mejadi sebuah hiburan, bisnis, alat komunikasi, tanda identitas dan sebuah ideologi pada saat yang bersamaan.
Di Italia, orang-orang Napoli dan Italia selatan yang lebih proletar, menggunakan sepakbola untuk meningkatkan martabat mereka di mata orang-orang Italia utara yang lebih borjuis. Sebelum Diego Maradona datang ke Napoli dan segera menjadi dewa di kota itu, orang-orang Italia selatan hanya dicap sampah oleh orang-orang Italia utara. Proses kedatangan Maradona sendiri cukup unik karena hampir sebagian besar orang Napoli menyumbangkan Lira dan segala harta benda kesayangan mereka untuk membayar biaya kedatangan sang bintang dari Barcelona (bab: fanatisme Napoli). Jelas ini adalah sebuah perjuangan besar untuk meningkatkan martabat dan memperjelas identitas diri mereka. Dan itu dilakukan lewat jalur sepakbola.
Di Uganda, saat diktator maha kejam Idi Amin masih berkuasa, sepakbola menjadi salah satu penyelamat orang-orang di sana. Seseorang bisa lolos dari maut dan hukuman para tentara sang diktator bila terbukti kalau dia penggemar sepakbola. ( bab : penjagal dari Afrika).
Di Irak, segerombolan penculik melepaskan sanderanya setelah melihat aksi Francesco Totti yang melepaskan kaosnya. Sang penculik yang ternyata adalah penggemar berat Totti begitu tersentuh dengan perlakuan sang bintang yang menuliskan “ bebaskan Giuliana “ di kaos dalamnya dan berlari di sekujur stadion Olimpico selepas mencetak gol. (bab: the last gladiator).
Di Mexico, raksasa sepakbola Italia Inter Milan begitu berhasrat membantu pasukan pemberontak Zapata lewat sumbangan uang, moril dan tentu saja seperangkat alat untuk bermain sepakbola. Bantuan ini memang berbau politis mengingat daerah yang dikuasai pemberontak Zapata adalah daerah kaya minyak dan bos besar Inter Milan-Massimo Moratti-adalah raja minyak. (bab: udang di balik batu).
Sebelumnya di piala dunia Mexico 1986, Diego Maradona dan rakyat Argentina telah membalas kekalahan mereka di perang Malvinas dari Inggris lewat sebuah pertandingan sepakbola yang akan dikenang sepanjang masa. Bukan hanya lewat sebuah rivalitas dan pertarungan kelas tinggi namun juga lewat sebuah gol indah Maradona dan sebuah gol curang sang dewa. Maradona mencetak sebuah gol yang disebutnya gol tangan Tuhan. Dalam keterangan resminya kepada pers,Maradona mengatakan, “ tak apa-apa mencuri dari seorang perampok”. Sebuah balasan yang mereka anggap setimpal setelah Inggris sukses merebut pulau Falkland. (bab: Maradonapun benci Bush).
Sungguh, sepakbola telah melampui batas-batas teritori dan batas-batas kepentingan. Sepakbola tak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah permainan belaka. Sepakbola telah berubah menjadi berbagai macam alat dan senjata. Senjata untuk membalas dendam, alat untuk meningkatkan harga diri dan terkadang sebagai alat untuk berdiplomasi.
Di bab : ramadhan dan sepakbola diterangkan secara gamblang bagaimana otoritas sepakbola tertinggi di Eropa (UEFA) begitu serius menyesuaikan jadwal pertandingan liga-liga Eropa dengan jadwal berpuasa para pemain sepakbola muslim yang mencari nafkah di daratan Eropa. Hal yang sama juga dilakukan oleh FA (PSSI-nya Inggris) yang sudah mencoba bersikap bijak kepada para pemain sepakbola muslim yang merumput di EPL Sebuah gambaran betapa sepakbola juga mampu menyelaraskan berbagai budaya yang berbeda.
Sepakbola dan bisnis Karena sifatnya yang bernada hiburan massal maka tak pelak sepakbolapun telah berubah menjadi sebuah industri dan bisnis. Para pebisnis tentu akan menetes liurnya kala mengetahui dengan pasti hitung-hitungan nilai uang yang bisa mereka raup dari sepakbola. Makanya tak mengherankan bila orang-orang seperti Rupert Murdoch, Roman Abramovich, Malcolm Glazer, dll. sampai berani menenggelamkan dirinya dalam bisnis berbau sepakbola.
Tahun 2003, Roman Abramovich seorang Yahudi asal Rusia yang umurnya belum lagi menginjak 40 tahun namun telah duduk di urutan ke-25 di daftar orang terkaya dunia itu membeli Chelsea. Sebelum Abramovich datang, Chelsea bukan apa-apa. Klub asal London itu hanya sebuah klub medioker yang minim prestasi. Tentu sangat jauh bila dibandingkan dengan Manchester United, Liverpool, Arsenal bahkan dengan Tottenham Hotspur sekalipun. Namun, guyuran poundstreling yang seperti tak terbatas dari seorang Abramovich dalam waktu singkat mengubah Chelsea menjadi sebuah klub yang disegani di Inggris dan Eropa.
Abramovich memang hanya orang yang sok tau soal sepakbola, namun naluri bisnis yang berbalut ketamakan membuatnya rela menggelontorkan uangnya yang seolah tak terbatas itu untuk membentuk sebuah imperium, tepat di jantung Inggris.
Abramovich tak sendiri, di belakangnya ada deretan orang-orang berkantong tebal yang ikut-ikutan bermain di bisnis sepakbola. Tujuannya tentu hanya satu, bagaimana meraih keuntungan sebesar-besarnya meski perlahan spirit murni di dalam tubuh sepakbola itu telah sirna.
Karena posisinya sebagai ladang bisnis yang kian subur itupula yang menjadikan sepakbola sebagai sebuah mata pencaharian yang paling dibidik oleh jutaan orang. Bukan hanya oleh mereka yang berkeringat langsung di lapangan hijau, namun juga oleh mereka yang berstatus agen, yang lebih banyak melakukan perjalanan, telepon, makan malam dan negosiasi. Agen pemain adalah sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi bisnis besar sepakbola sangat membutuhkannya, sementara di sisi lain banyak yang menganggapnya hanya sebagai parasit yang mengambil keuntungan dari pihak pemain dan klub tanpa harus berkeringat.
Namun mungkin tak banyak yang tahu, kalau bisnis besar EPL (Liga Inggris) pernah diselamatkan kelangsungannya oleh seorang fisioterapis bernama Gary Lewin. Lewin yang bekerja untuk klub Arsenal berhasil mengambil sebuah langkah paling menentukan di masa yang sangat krusial untuk menyelamatkan tidak saja masa depan Eduardo Da Silva yang waktu itu terkena cidera sangat parah, namun juga masa depan bisnis EPL. Bila saja Lewin terlambat aau salah mengambil tindakan, maka Eduardu mungkin akan menjadi seorang mantan pemain sepakbola yang salah satu kakinya terpaksa diamputasi dan EPL akan menjadi sebuah ajang yang dijauhi para pebisnis karena dianggap sebagai arena pernuh dengan kebrutalan. (bab: the forgotten man).
Bisnis sepakbola juga pada akhirnya menciptakan sebuah bentuk perbudakan modern. Pada bab : Kisah John Obi Mikel diceritakan lika-liku seorang bocah asal Ghana yang menjadi rebutan dua klub besar : Manchester United dan Chelsea. Kasus perebutan ini sampai memaksa otoritas sepakbola dunia-FIFA untuk turun tangan. Di bab yang lain : Man Without Country, diceritakan tentang nasib seorang anak Afrika yang terlunta-lunta setelah mimpinya menjadi pesepakbola terkenal sirna di negeri orang.
Sebagai sebuah bisnis massal yang menggiurkan, sepakbola telah mampu menciptakan sebuah mimpi indah bagi jutaan anak-anak di negara miskin. Terkadang mimpi mereka menjadi kenyataan seperti yang dialami Ronaldinho, Michael Essien, Ronaldo, Samuel To’o, dll. Namun tak sedikit juga yang harus patah arang di tengah jalan dan kemudian kembali ke kehidupan nyata mereka yang berkubang kemiskinan.
Sepakbola dalam negeri. Di buku ini, Arief Natakusumah juga menuliskan beberapa bab yang berkaitan dengan sepakbola negeri kita, meski dia sendiri mengaku selalu menghindari untuk menulis tentang sepakbola Indonesia.
Dengan bahasa yang menarik, Arief menyusun dan menceritakan kembali berbagai kejadian dalam sepakbola kita, terutama saat kita masih boleh berbangga diri pada prestasi sepakbola dalam negeri. Indonesia adalah negara Asia pertama yang mengirimkan wakilnya di ajang piala dunia, Indonesia juga pernah menjadi sebuah tim yang ditakuti di kawasan Asia. Sayangnya, saat negara-negara Asia lainnya mulai berbenah diri dan maju selangkah demi selangkah, kita malah asyik mundur ke belakang sambil terus berusaha mengurai benang kusut pesepakbolaan tanah air.
Dalam buku ini cukup banyak bab yang menceritakan tentang sepakbola kita, meski sebagian besar adalah kisah-kisah romantisme masa lalu. Dalam bab: “Derby” a la Jawa diceritakan dengan sangat apik tentang rivalitas yang sudah mendarah daging dan turun temurun antara Persis Solo dengan PSIM Jogjakarta. Sementara itu dalam bab: Sengsara membawa nikmat diceritakan bagaimana pengalaman tim nasional kita saat pertama kali melakukan partai lawatan ke luar negeri, tepatnya ke Singapura. Pertandingan pertama tim nasional kita diceritakan pada bab : debut PSSI. Dalam bab-bab tersebut dengan jelas dapat dirasakan bagaimana besarnya kekuatan sebuah semangat dan motivasi mengalahkan banyak keterbatasan. Hal yang rasanya sudah hilang dari pemain sepakbola kita saat ini.
Penulis juga tak lupa membubuhkan berbagai catatan tentang ironi yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia, tentang fanatisme luar biasa orang-orang kita pada klub dan tim nasional negeri lain yang membuat orang bule sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arief Natakusumah sebelumnya dikenal sebagai salah seorang awak pada tabloid BOLA sebelum akhirnya menyeberang ke majalah BOLAVAGANZA. Keterlibatannya yang panjang dengan dunia sepakbola membuatnya mampu menulis tentang sepakbola dengan sangat lancar. Arief mampu menceritakan berbagai kaitan yang jelas antara sepakbola dengan bisnis, politik dan budaya secara gamblang, ibaratnya dia bercerita tentang sepakbola dengan bahasa sepakbola itu sendiri.
Buku ini jelas adalah sebuah buku yang layak menjadi pegangan bagi para pecinta sepakbola, atau orang awam yang ingin mengerti tentang sepakbola dan kaitan olahraga ini dengan berbagai hal seperti bisnis, politik dan budaya.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Judul : Ayat-Ayat Cinta Produksi : MD Picture Sutradara : Hanung Bramantyo Produser : Dhamoo & Manoj Punjabi Pemain : Fedi Nuril, Carissa Putri, Rianti Cartwright, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca. ***** “Wuihh..bagusnya..” “Wah, bangus bangettt..” “pak Ipul harus nonton..kalo perlu nontonnya berdua sama istri..filmnya bagus banget..”
Well, itulah beragam komentar tentang film Ayat-Ayat Cinta yang sempat mampir di telinga saya. Harus saya akui, sejak seminggu lalu film garapan Hanung Bramantyo ini jadi buah bibir paling hangat di kantor. Beberapa orang teman sampai rela bolos siang hari hanya demi untuk menjadi orang kantor pertama yang menonton Ayat-Ayat Cinta. Hari jum’at minggu lalu, beberapa orang teman kantor juga sampai harus menelan kekecewaan karena tak kebagian karcis, meski sudah menyambangi bioskop lebih dini.
Karena penasaran, akhirnya kamis malam kemarin saya dan istri menyempatkan diri untuk menonton film ini. Untungnya karena kami bisa menyaksikannya gratis, jadi apapun hasilnya kami nothing to loose aja.
Kami memulai menonton tanpa bekal pengetahuan akan jalan cerita atau sinopsis yang memadai. Kami berdua memang belum pernah membaca novelnya, novel yang katanya fenomenal itu. modal awal kami betul-betul hanyalah ungkapan-ungkapan penuh kepuasan dari beberapa teman-teman yang sudah lebih dulu menontonnya.
Dan hasilnya: entah kenapa kami berdua punya pandangan yang berbeda dengan sebagian besar teman-teman yang sudah menontonnya. “ngawur banget nih film...”, itu komentar istri saya yang segera saya amini.
Ayat-ayat cinta ternyata tak sedahsyat yang diceritakan banyak orang. Seperempat durasi awal sudah mampu membuat kami menebak akhir cerita. Alurnya sederhana - sangat sederhana malah, konfliknya terlalu dibuat-buat dengan penokohan yang juga sangat dibuat-dibuat. Ada beberapa karakter yang sebenarnya tidak perlu bahkan cenderung mengganggu. Secara singkat saya bisa bilang kalau film ini tak jauh berbeda dengan sinteron-sinetron khas Multivision atau MD Pictures, sebuah cerita yang penuh dengan konflik yang dibuat-buat plus tokoh yang sangat hitam putih dan tak lupa, karakter wanita yang sakit dan sebentar lagi mati untuk menarik simpati. Sinetron banget nggak sih ?.
Saya bisa bilang kalau menonton film ini anda bisa tenang meninggalkannya untuk mencuci piring, mencuci pakaian, goreng pisang dan bikin kopi tanpa perlu takut untuk kehilangan alur cerita. Toh, semuanya sudah bisa tertebak beberapa menit setelah film dimulai. Ada konflik-konflik yang mungkin dimunculkan dengan maksud untuk mengundang rasa terkejut para penonton (dan sebelumnya para pembaca buku) namun nyatanya malah membuat alur cerita jadi sangat-sangat tidak masuk akal. Illogic. Saya jadi ingat komentar seorang teman tentang buku Ayat-Ayat Cinta.
Sejak awal kami sudah dibuat bingung dengan tampilan beberapa karakter yang menimbulkan pertanyaan, ini orang Indonesia atau Mesir sih ?. Kendalanya ada di faktor bahasa. Tentu akan jadi sebuah masalah besar bila film ini ngotot menggunakan bahasa asli sang karakter karena sepertinya kebanyakan karakter yang muncul adalah karakter orang-orang Mesir. Sayangnya pemilihan para pemain juga tidak menolong kami untuk keluar dari kebingungan ini. Contohnya si Zaskia Adya Mecca yang digambarkan sebagai orang Mesir bernama, Naurah. Well, sayang sekali tampang Zaskia sama sekali tidak menampakkan tampang arab, kalo Sunda sih iyya..
Karakter Fahri terlalu sempurna. Saya tidak tahu kalau memang ada cowok seperti si Fahri ini. Manis, cakep, alim, lurus, pintar, pokoknya sangat sempurna hingga membuat 4 orang cewek tergila-gila kepadanya. Seorang dari mereka berhasil merebut hatinya, seorang lainnya sampai stress berat dan kemudian jadi mayat hidup yang hanya bisa dibangunkan kembali dengan cara dinikahi oleh Fahri.
Seorang lagi sampai kehilangan semangat hidup hingga membuat paman dan bibinya menghiba meminta Fahri yang sudah jadi suami orang untuk menikahi ponakan mereka. sementara cewek terakhir malah sampai tega memfitnah Fahri telah memperkosanya, hanya karena si cowok nan sempurna itu tak membalas cintanya. Wow, luar biasa bukan ?.
Ada beberapa karakter lain yang rasanya koq nggak penting dan bahkan cenderung mengganggu. Salah satunya adalah si Alicia, wartawan asal Amerika yang katanya sedang meneliti lebih jauh tentang Islam. Seorang wartawan yang sedang melakukan penelitian kemudian hanya menyempatkan diri mengajukan satu-dua pertanyaan pada narasumber dan kemudian kembali ke Amerika dengan bekal sebuah tulisan singkat dari sang narasumber ?, hmmm..pantas saja pers Amerika sering membuat kebohongan publik bila cara mereka mencari berita seperti itu.
Karakter lainnya yang mengganggu adalah si bapak-bapak Arab yang berada satu sel bersama Fahri. Karakter yang tak jelas dan dengan akting yang berlebihan. Mungkin maksudnya dihadirkan sebagai orang yang kemudian menyadarkan Fahri tentang keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Sayangnya karakter ini tidak kuat dan tidak konsisten sehingga kemudian terasa mengganggu.
Karakter Nurul, anak seorang kyai yang jatuh cinta setengah mati pada Fahri juga tidak jelas. Hanya menambah-nambah jumlah karakter yang ditampilkan tanpa ada kekuatan yang jelas. Perannya dalam cerita juga tidak terlalu terasa. Habiburahman juga rupanya masih tetap setia pada resep menampilkan sebuah karakter wanita yang sakit dan sebentar lagi mati untuk menarik simpati pembaca (dan penonton). Saat darah mengucur dari hidung Maria, spontan saya dan istri langsung tertawa, lucu karena seingat kami karakter-karakter seperti ini memang sering jadi jualan utama sinetron-sinetron Indonesia atau film-film produksi Multivison dan MD. Tipikal bangett..
Cerita juga sama lemahnya. Salah satu kelemahannya adalah sangat menggampangkan segala hal. Mari kita lihat bagaimana gampangnya Fahri menemukan orang tua kandung Naurah yang katanya sudah terpisah sejak kecil. Tak dijelaskan dengan detail bagaimana Fahri bisa menemukan orang tua kandung Naurah. Pokoknya langsung ketemu, gampang kan ?. Kalau Fahri mau membuka biro detektif swasta, saya yakin pelanggannya pasti akan berlimpah. Lihat juga saat Aishah dengan mudahnya menemukan keberadaan Maria dan keluarganya yang kata teman-teman Fahri sudah tidak diketahui keberadaannya. Hanya dengan mengajukan satu pertanyaan di sebuah rumah sakit, Aishah sudah bisa menemukan tempat Maria dan ibunya yang baru. Ah, teman-teman Fahri kelihatannya memang sangat goblok hingga tidak berpikir ke arah itu, atau bisa jadi mereka tidak seperhatian itu pada masalah yang menimpa Fahri.
Cerita tentang fitnah yang kemudian berlanjut ke adegan-adegan di persidangan segera mengingatkan kami pada film-film India. Asli India banget, sebuah konflik yang terlalu dibuat-buat. Harusnya Habiburrahman bisa lebih kreatif mencari alur cerita lain jika memang ingin mempertemukan kembali Fahri dan Maria hingga akhirnya memaksa Aishah rela menjadi bagian sebuah poligami. Tak perlu memaksa untuk menampilkan sebuah konflik bernama fitnah yang berujung pada pengadilan. Toh, akhirnya kasus ini juga diselesaikan dengan sangat sederhana, selesai detik itu juga. Lupakan cerita tentang penyelesaian sebuah kasus nan rumit seperti dalam film A Few Good Men atau The Firm, karena toh cerita pengadilan ini hanya sebuah tempelan belaka.
Setelah adegan-adegan pengadilan ini, tadinya saya mengira kalau cerita sudah akan mencapai klimaks. Namun ternyata belum, karena selanjutnya masih ada cerita seputar poligami yang melibatkan Fahri-Aisha-Maria yang kemudian diakhiri dengan ekesekusi pada karakter Maria yang sakit dan sebentar lagi mati.
Entahlah, tapi dua klimaks dalam sebuah cerita dimana kedua-duanya tidak tergarap dengan baik bagi saya bukanlah sebuah pilihan yang bagus. Hanya mengulur-ulur waktu, menuh-menuhin durasi dan akhirnya mengaburkan fokus. Sayang sekali, cerita Ayat-Ayat Cinta belum mampu membuat saya dan istri mengeluarkan pendapat yang sama dengan teman-teman kami. Masih ada beberapa film Indonesia yang kualitasnya lebih bagus dari film ini.
“ atau, mungkin kita yang aneh ya..?”. tanya saya pada Ofie-istri saya. Dia tidak menjawab, hanya tertawa renyah. Sampai sekarang saya masih belum faham arti tawanya. Mungkin memang kami yang aneh karena punya pandangan yang berbeda dengan kebanyakan teman-teman kami, atau..ah, entahlah...

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Siba Shakib |
Penerjemah : Ully Tauhida Editor : Aisyah Penerbit : Pustaka Alvabet.
Samira lahir dari sebuah keluarga terpandang salah satu suku nomaden di pegunungan Hindu Kush sebelah utara Afghanistan. Ayahnya adalah seorang komandan atau kepala suku dan tentu saja menempati kasta tertinggi dalam struktur sosial masayarakat suku tersebut. Sang komandan sangat mengharapkan anak pertamanya lahir sebagai seorang lelaki sebagaimana yang didapatkan oleh ayahnya, kakeknya dan para leluhurnya terdahulu. Kehadiran seorang anak lelaki dalam keluarga sang Komandan adalah sebuah kesempurnaan, dan sebaliknya kehadiran seorang wanita sebagai anak pertama adalah sebuah aib. Sayangnya, kenyataan itulah yang harus diterima sang Komandan. Anak pertamanya lahir sebagai seorang wanita, jauh dari harapannya.
Meski sempat bimbang, namun sang Komandan akhirnya menerima takdir ini. Tapi tentu saja dia tak menerimanya begitu saja. Sang anak diperlakukan sebagai seorang pria. Sang komandan menamainya Samir meski sang ibu-Daria-menamainya Samira. Identitas gendernya dikaburkan. Dia dilatih berkuda, menembak dan bermain buzaskhi seperti layaknya seorang lelaki sejati. Tak ada seorangpun selain sang Komandan dan istrinya yang tahu kalau Samir sesungguhnya adalah seorang wanita.
Persoalan menjadi semakin pelik ketika sang komandan kehilangan kejantanannya dalam sebuah pertempuran yang kemudian membuatnya tak bisa memiliki keturunan selain putra-perempuannya Samira. Tak ada pilihan lain, sang komandan semakin giat menempa putra-perempuannya menjadi seorang lelaki sejati. Tempaannya berhasil. Samira tumbuh sebagai Samir yang gagah perkasa. Sangat pandai berkuda, pandai menembak dan komplit sebagai seorang calon penerus sang komandan yang akan memimpin suku nomaden tersebut.
Takdir berkata lain ketika suatu hari dalam sebuah pertempuran, sang Ayah tertembak dan mati. Keadaan ini membuat Samir dan Daria-ibunya jadi kehilangan pelindung. Seorang wanita tanpa pelindung dalam kebiasaan para suku nomaden di pegunungan Afghanistan tersebut adalah seorang wanita yang menjadi hak siapa saja, tak peduli dia adalah istri almarhum seorang komandan. Dan itulah yang terjadi pada Daria. Beberapa orang pria dari suku tetangga kemudian memperkosanya secara bergiliran. Samira yang menjadi saksi kejadian tersebut berusaha melindungi ibunya hingga berhasil membunuh satu di antara para pemerkosa tersebut. Keluarga sang pemerkosa yang tewas bertekad melakukan balas dendam sementara para lelaki dari suku Samira tak ada yang membela karena merasa itu adalah urusan pribadi Samira dan ibunya, dan bahwa kedua manusia lemah itu memang sudah tak punya pelindung lagi. Tak ada jalan lain, Samira membawa ibunya lari dari perkampungan mereka mencari hidup di tanah lain. Tujuan mereka adalah desa tempat kakek Samira dari ibunya menetap.
Tinggal bersama sang kakek di sebuah bukit di pinggir sebuah desa membuat hidup Samira berubah. Sang kakek ternyata paham betul akan arti pentingnya sebuah pendidikan. Diantarnya Samira ke satu-satunya sekolah yang ada di desa itu. Samira yang tetap menggunakan identitasnya sebagai Samir ternyata sangat menyukai sekolah. Dia bahagia menemukan kenyataan kalau ternyata dunia itu lebih luas dari yang dikiranya selama ini.
Dalam fase kehidupan ini pula Samira berkenalan dengan Bashir, putra seorang komandan yang juga tinggal di bukit yang sama dengan Samira. Meski putra seorang komandan, namun Bashir sama sekali tidak tampak sebagai seorang lelaki sejati. Tubuhnya kerempeng dan tidak tangkas melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang lelaki sejati. Tak heran bila komandan Rashid-ayah Bashir- sangat menyukai Samira dan selalu menjadikannya sebagai contoh untuk Bashir. Sesuatu yang membuat Bashir sangat membenci Samira. Persahabatan mereka memang berawal dari rasa saling membenci, Bashir membenci Samira yang selalu dijadikan contoh oleh sang Ayah sementara Samira membenci Bashir yang kelihatan lemah sebagai seorang lelaki.
Sebuah kejadian kemudian merubah nasib persahabatan mereka. Dari awalnya saling membenci hingga kemudian betul-betul saling menyayangi dan membutuhkan sebagai seorang sahabat. Hari-hari merela lalui bersama-sama, begitupun dengan berbagai rintangan. Perlahan-lahan Bashir mulai menjadi seorang lelaki sejati. Dia mulai berani menunggangi kuda-sebelumnya Bashir hanya berani menunggangi keledai-dan mulai mampu melakukan banyak hal seperti yang dilakukan Samira. Di lain pihak Samira mulai makin meyukai ilmu pengetahuan.
Suatu waktu, Bashir terpaksa bergabung dalam suatu pertempuran di daerah selatan Afghanistan demi mendapatkan uang sebagai bekal untuk melewati musim dingin yang kejam. Samira yang ditinggal Bashir mulai merasakan kerinduan yang sangat pada sahabatnya itu. Situasi menjadi pelik ketika Gol-Sar; kakak perempuan Bashir ternyata jatuh cinta pada Samira. Komandan Rashid sang ayah menyampaikan keinginan anak perempuannya itu. Samira tak punya alasan untuk menolak. Tapi dia diberi waktu yang cukup mempersiapkan diri menyunting Gol-Sar.
Setelah tuntas bertempur di bagian selatan Afghanistan, Bashir kembali ke sukunya, kembali ke Samira sebagai seorang lelaki sejati. Selanjutnya hubungan Samira dan Bashir menjadi aneh. Bashir ternyata jatuh cinta pada Samira sebagai seorang Samir hingga kemudian terkejut ketika Samira mengungkapkan rahasia terbesarnya. Bashir terjebak dalam kebingungan besar, apakah dia mencintai Samira sebagai Samir, atau Samira sebagai Samira. Lewat sebuah pergulatan yang panjang, Bashir kemudian menyadari kalau yang dia cintai adalah Samira, wanita cantik yang selama ini dikiranya seorang lelaki.
Samira terjebak dalam sebuah situasi cinta yang aneh. Sebagai Samir dia menikmati saat-saat bersama Gol-Sar, namun sebagai Samira dia juga tak bisa lepas dari sensasi saat bersama Bashir. Membuka identitasnya yang sebenarnya pada komanda Rashid adalah berarti mempermalukan sang komanda dan keluarganya termasuk Bashir yang tentu saja harus dia tebus dengan nyawanya. Kisah penuh kepelikan antara Samir, Samira, Gol-Sar dan Bashir ini akhirnya ditutup dengan sebuah ending yang mulus dan sangat di luar dugaan. Sebuah ending yang kemudian memuaskan semua pihak dan tidak satupun yang kehilangan kehormatan meski sempat membuat pedih seorang dari mereka.
****
Samira dan Samir adalah sebuah kisah memilukan tentang perjuangan seorang wanita yang menjalani kehidupannya dalam sebuah struktrur sosial masyarakat di Afghanistan yang masih menempatkan para wanita sebagai warga kelas dua. Di buku ini terpotret dengan jelas berbagai perlakuan yang sangat diskriminatif terhadap kaum wanita di negeri yang masih terus dilanda perang ini.
Samira dihadirkan sebagai karakter seorang wanita yang terpaksa menjadi seorang lelaki demi menyelamatkan “kehormatan” sang Ayah sebagai komandan sebuah suku nomaden di pegunungan Hindu Kush. Kesalahan identitas inilah yan kemudian membuat hidupnya sangat kompleks.
Pada awalnya buku ini bisa dibilang membosankan. Bab-bab awal yang banyak bercerita tentang proses kelahiran Samira dan kehidupannya semasa sang Ayah masih hidup berjalan dengan alur yang sangat lambat. Namun, segalanya berubah ketika alur mulai memasuki masa-masa saat Samira dan ibunya melarikan diri dari perkampungan mereka. Di sinilah konflik sesungguhnya mulai hadir. Berbagai pengalaman baru yang hadir dalam kehidupan Samira berserta konflik asmara yang berbelit-belit membuat buku ini kemudian cukup menarik.
Sang penulis jelas sekali ingin memberikan penyadaran tentang pentingnya pendidikan bagi wanita seperti halnya orang memandang perlunya hal tersebut bagi seorang pria. Siba Shakib-sang penulis jelas sekali ingin mengobarkan semangat kesetaraan bagi pria dan wanita lewat kisah apik ini. Sebuah kisah memilukan tentang cinta dan penindasan di Afghanistan.

 | Category: | Music | | Genre: | Alternative Rock | | Artist: | Pearl Jam |
Judul : Imagine in Cornice, A Picture in A Frame Artist : Pearl Jam (Jeff Ament, Stone Gossard, Mike McCready, Matt Cameron, Boom Gaspar & Eddie Vedder ). Sutradara : Danny Clinch. Produksi : Monkey Wrench dan Rhino Entertainment Company a Warner Music Group Company. Track list : Severed Hand, World Wide Suicide, Life Wasted, Corduroy, State of Love and Trust, Porch, Even Flow, Better Man, Alive, Blood, Comatose, Come Back, Rockin’ in the Free World. Plus 3 bonus songs.
“ In Italy, there is a Passion “, I’m absolutely agree with McCready’s statement. Yes, I can feel those passion in latest Pearl Jam’s DVD, Imagine in Cornice: A Picture in a Frame.
Saya memesan DVD ini secara resmi sejak tanggal 12 Nopember kemarin dari Amazon.com, estimated time arrive-nya adalah tanggal 13 Desember, sekitar sebulan setelah pemesanan. Namun di luar rencana, selasa kemarin (26 Nopember) sebuah kotak cokelat dengan tulisan “Amzon.com” di sampingnya tiba di kantor. Am I happy ?..yes I am. I got a pair of Pearl Jam’s DVD in the same month. What a great pleasure..
Helman, moderator milis Pearl Jam Indonesia sudah pernah mengupas tentang IIC di blognya, paparan yang terus terang sangat bikin penasaran. Syukurlah saya tidak perlu menunggu lama sebelum akhirnya bisa membenarkan review Helman.
Danny Clinch, the director yang notabene adalah seorang photographer betul-betul memanfaatkan kelebihannya memilih angle-angle terbaik yang dipadukan dengan cerita dan setting Italy yang sangat memukau. IIC tidak hanya menampilkan potongan-potongan konser Pearl Jam di beberapa kota di Italy, tapi sekaligus juga merekam kegiatan belakang panggung dan keseharian para personil Pearl Jam.
Ada Eddie yang bermain dan ngobrol dengan Olivia Vedder, si kecil yang baru berusia 3 tahun, ada Jeff yang asyik main skateboard di local park. Bisa ditemukan juga rekaman McCready yang melayani fans dengan penuh perhatian, atau Eddie yang sampai ternganga menyimak permainan Boom Gaspar dengan organ tua di sebuah gereja di Pistoia.
Di film ini Pearl Jam ditampilkan apa adanya. Di panggung mereka mungkin adalah dewa bagi para fans, tapi di luar konser mereka tetap manusia biasa yang tidak sempurna. Danny sangat pintar menangkap momen-momen tersebut. Termasuk momen-momen indah yang dihadirkan para fans di arena konser ataupun di pinggir jalan.
Secara teknis IIC juga bisa dibilang sempurna. Gambarnya super tajam dengan sound yang prima. Kualitas teknis melengkapi kualitas content sebuah rekaman konser yang tak hanya menampilkan aksi panggung.
IIC adalah “the must have material” untuk para Pearl Jam lovers. Sempurna, itu kesimpulan yang saya tulis untuk sebuah DVD bertajuk, Imagine In Cornice.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Into The Wild
Sutradara : Sean Penn. Pemain : Emile Hirsch, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Catherine Keener, Susan Spencer. Produksi : Paramount Vantage Classic.
Another quality movie that comes with a great view. Saya sudah membeli versi bajakan dari film ini sejak 2 minggu lalu, tapi baru beberapa hari yang lalu saya sempatkan untuk menontonnya. Sejak membaca reviewnya di internet dan melihat trailernya di sebuah situs, saya sebenarya sudah penasaran sama film ini. Sayangnya setelah rilis resminya di AS sudah lewat sebulan lebih, belum ada tanda-tanda film ini akan masuk ke Indonesia. Setidak-tidaknya Into The Wild masih kalah pamor oleh film-film setan yang gentayangan di bioskop kita. Maka maafkan saya jika sampai membeli DVD-nya di kios DVD bajakan.
Into The Wild diangkat dari sebuah novel berjudul sama yang ditulis oleh Jon Krakauer. Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang pemuda di West Virginia, AS.
Anak muda itu bernama Christopher Johnson McCandless, anak seorang ilmuwan NASA yang cukup mapan di West Virginia. Chris punya idealisme yang kental. Berbeda dengan remaja seusianya, dia gelisah ingin menyatu dengan alam dan mencicipi kehidupan liar Amerika. Saat lulus dari Emory University tahun 1990, Chris meninggalkan “kehidupan normal”nya. Mendonasikan $ 24.000 tabungannya ke sebuah badan amal, menggunting semua kartu pengenal dan kartu kreditnya serta terakhir membakar uang kertasnya.
Chris betul-betul ingin mencicipi kehidupan alam liar, jauh dari model kehidupannya selama ini. Obsesi terbesarnya adalah menuju Alaska, seorang diri dan nyaris tanpa modal apa-apa selain backpack besar berisi barang-barang keperluan sehari-hari. Dalam perjalanannya, Chris bertemu bermacam-macam karakter yang membantunya menemukan jati dirinya.
Sayang, akhir hidupnya tragis. Direnggut oleh alam yang justru sangat dicintainya. Chris meninggal 2 tahun setelah meninggalkan rumah, keluarga dan kehidupannya. Chris mungkin pemuda yang aneh, tapi setidaknya dia memuaskan dirinya dengan jalan hidup yang dia pilih. Walau tak lazim untuk orang biasa.
Film ini dibuat dengan setting yang melompat-lompat, sebagian besar adalah flash back. Terbagi atas beberapa chapter yang diberi nama sesuai tema perjalanan Chris, filmnya bisa dibilang sangat menyentuh. Sean Penn terlihat berusaha menjual pemandangan indah pedalaman AS, sekilas akan mengingatkan kita akan pemandangan yang nyaris sama di Brokeback Mountain. Emile Hirsch bermain cukup apik di film ini.
Tapi buat saya, sisi paling menarik dari film ini terletak di Soundtrack-nya yang diisi dengan sangat indah oleh Eddie Vedder, lead vocal dari band Pearl Jam. Lagu-lagunya sangat pas dengan film ini. Eddie tampil agak beda dari sisi aransemen bila dibandingkan kebiasaan selama ini di Pearl Jam.
Bila anda pecinta alam atau pecinta film yang “based on a true story”, film ini bolehlah jadi pilihan.

 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Sutradara : Arie Aziz Pemain : Nia Ramadhani, Mike Lewis, Donita, Lia Waode, Djadjang C Noer, Arswendy Nasution, Mastur. Naskah : Aviv Elham Produser : Dhamoo dan Manoj Punjabi Produksi : MD Pictures, 2007
Sebelumnya saya sudah sering membaca beberapa review tentang film ini, dan kebetulan tidak ada satupun review yang bernada positif. Sebenarnya saya penasaran juga pengen nonton, tapi masih lebih sayang pada lembaran-lembaran rupiah yang mungkin akan terbuang percuma kalau saya tetap berkeras meluangkan waktu ke bioskop hanya demi film ini. Beruntung Trans TV mau berbaik hati menayangkannya secara gratis di hari Sabtu kemarin.
Saya tidak setuju kalau orang mengkategorikan film ini sebagai film horror, buktinya sepanjang durasi yang hampir 2 jam, saya lebih banyak tertawa selain tentu saja mencela, bahkan nggak sekalipun saya merasa serem apalagi sampe merinding. Saya juga tidak setuju kalau film ini dibilang jelek dan tidak menghibur, buktinya saya bisa merasa puas setelah filmnya selesai, puas karena akhirnya bisa mendapatkan alasan-alasan yang tepat untuk memuaskan nafsu mencela.
Sebuah film aneh yang betul-betul penuh dengan kecacatan dan pastinya membuka peluang selebar-lebarnya bagi para penonton yang waras untuk mencela. Kalau ada yang sampai bilang film ini bagus, seram dan memacu adrenalin, wah...kayaknya mereka musti memeriksakan sesuatu di otak mereka.
Cacat pertama film ini yang langsung keliatan adalah pada pemilihan lokasi atau setting. Kalau saya tidak salah, tahun ini sudah masuk ke tahun 2007 dan sebentar lagi bahkan sudah mau masuk ke 2008, tapi rumah sakit dan asrama yang menjadi setting film ini koq kayaknya masih tertinggal puluhan bahkan ratusan tahun ke belakang. Coba anda bayangkan, orang waras mana yang mau berobat ke rumah sakit yang kusam, kumuh dan gelap seperti itu. Semiskin-miskinnya saya, kayaknya saya masih mending berobat ke dukun daripada musti dirawat di rumah sakit yang dindingnya bahkan lebih kusam dari dinding Lawang Sewu. Kemudian, coba anda bayangkan, mana ada sih cewek cakep yang keliatannya berasal dari keluarga mapan yang rela tinggal di asrama yang malah lebih kusam dan kumuh dari rumah sakit yang saya sebutkan di atas, di kamar yang lebih kusam daripada gudang di rumah saya pula.
Sepertinya sang produser, sutradara dan kru film ini sudah kehabisan akal untuk mencari setting yang tepat. Dan dengan IQ mereka yang ngesot maka dibuatlah sebuah setting yang mereka anggap mampu membangun ketegangan para penonton.
Cacat kedua adalah pemilihan pemain atau mungkin lebih tepatnya akting mereka. Nia Ramadhani bermain jauh lebih apik sebagai Bawang Merah di RCTI (bahkan sepertinya di sinetron ini dia sama sekali nggak berakting, tapi main seperti apa adanya dia), Donita..hmmm...akting yang langsung bisa dilupain sedetik setelah filmnya habis. Dan Mike Lewis...?, Olala...apakah Indonesia memang sudah kehabisan aktor ?, sampai-sampai Punjabi bersaudara itu musti memasukkan sesosok cowok bule yang bahkan berbahasa Indonesia saja belum lancar untuk main di film mereka ?. Acha Irwansyah dengan pandangan mata kosong dan tampang bloon-nya seketika jadi terlihat seperti Jack Nicholson di hadapan Mike Lewis.
Cacat berikutnya—yang mampu bikin saya ketawa sepanjang film—adalah jalan cerita. Pertama, ngapain seorang cowok bule yang kaya raya sampai pulang ke Indonesia delapan bulan yang lalu dan memilih kuliah di sebuah kampus yang sama kusamnya dengan rumah sakit tempat Nia Ramadhani kerja ?. segitu bloon-nya kah dia sampai-sampai harus pulang ke Indonesia dan kuliah di sini ?, atau mungkin karena dia blo’on bin bego sampai-sampai tak ada satupun universitas di luar sana yang mau menerima dia. tolong dikoreksi, tapi setahu saya justru banyak anak muda Indonesia yang bermimpi bisa kuliah di luar negeri. Sayang si Mike ini dibikin mati, padahal saya masih belum puas mencela akting dan dialognya dia..
Kedua, kenapa setiap orang yang dikejar hantu larinya justru ke tempat yang lebih sunyi, kusam dan gelap ?, bahkan si Mike malah lari ke kuburan saat dikejar si Suster kurang kerjaan yang hobi mencampuri urusan pribadi orang itu. Adegan yang paling bikin geli adalah waktu Donita didatangi si Suster, udah tau ada hantu dia malah duduk aja di depan pintu sambil teriak-teriak. Donita baru lari pas si hantu udah dekat banget, udah gitu larinya ke arah tangga yang minta ampun joroknya, penuh sampah. Ini asrama atau tempat pembuangan sampah sih ?, udah gitu katanya asrama yang semua kamarnya udah penuh tapi koq tak ada satupun penghuni lain yang keluar pas si Donita menjerit. Emangnya penghuni lainnya lagi tugas di rumah sakit apa ?. Keterlaluan..!!!. satu lagi, apa iyya sih Herman bisa membobol tembok, kemudian memasukkan mayat Lastri ke sana dan kemudian menutupinya dengan adukan semen dan pasir. Semuanya hanya dikerjakan dalam waktu singkat. Saya kira dg.Baco tukang di proyek sayapun gak bakalan bisa ngerjain itu semua dalam waktu sehari. Lagian setebal apa sih dindingnya sampe bisa dipake buat ngubur orang ?....
Ketiga, dan ini yang paling parah. Setahu saya, hantu itu termasuk golongan makhluk halus, artinya mahluk yang dunianya udah beda sama kita-kita manusia. Tapi koq, kayaknya si hantu ada bayangannya..?, dan parahnya lagi, si hantu bisa narik-narik kaki orang dan bahkan mencekik korbannya....hmmm, sepanjang pengetahuan saya sih, hantu itu cuma menampakkan diri untuk bikin orang takut, atau paling tinggi ya bikin orang kerasukan...Sungguh tidak masuk akal !!!!.
Ah, koq masih ada sih orang yang mau menghabiskan uang banyak hanya untuk membuat film seperti ini ?. Jangan-jangan di orang sengaja mau bikin IQ kita-kita orang Indonesia jadi ikut-ikutan ngesot kayak mereka. Kenapa nggak sekalian dibikin kayak Scary Movie aja, toh secara keseluruhan filmnya juga sudah lucu. Lebih aneh lagi, koq masih ada juga orang yang mau menghabiskan duit dan waktunya untuk nonton film kayak gini di bioskop ?, bukannya duitnya lebih baik dipake beli Nasi Goreng dan minum air jeruk ?, udah ketahuan bikin kenyang.
Ah, untungnya saya bisa nonton dan nyela film ini secara gratis, thanks Trans TV...lagi dong...

| |