Coretan 'gak penting

Blog EntryMenunggu lahirnya pahlawan masa depanAug 24, '08 10:22 PM
for everyone

Jarum jam masih menunjuk ke angka 8, matahari belum terlalu panas. Rumput-rumput dan daun-daunan masih bercumbu dengan embun yang basah. Di sebuah lapangan rumput berukuran setengah dari lapangan sepakbola, dua puluh dua orang anak lelaki sedang asyik berpeluh sambil memainkan sebuah bola.

Anak-anak itu tampak sangat bersemangat, mereka berlari ke sana ke mari. Bergerombol memperebutkan bola. Sesekali ada juga dari mereka yang mencoba meliuk-liuk dengan bola di kakinya. Semangat terlihat jelas dari mata-mata mereka yang berbinar cerah saat tanpa rasa lelah mengejar si kulit bundar. Sesekali ada juga dari mereka yang berbenturan, terjatuh, mengaduh sejenak sebelum kemudian kembali berdiri dan kembali mengejar bola. Di tengah lapangan ada 3 orang dewasa yang dengan setia terus mengarahkan mereka, memberi semangat sambil sesekali memerintah. Mereka adalah pelatih anak-anak itu.

Hampir setengah jam lamanya saya berdiri di pinggir lapangan, menikmati semangat anak-anak yang umurnya tak lebih dari 12 tahun itu. Sesekali saya tergelak saat melihat aksi mereka, ada anak-anak yang punya semangat yang melebihi kemampuan fisik mereka. Sungguh 30 menit yang menyenangkan. Semangat mereka, peluh mereka dan fantasi mereka adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Sejenak saya berandai-andai, salah satu-atau mungkin semuanya- dari 22 anak-anak ini nantinya akan berdiri di sebuah podium besar, mengangkat sebuah tropi berlapis emas, menciumnya sebelum mengangkatnya tinggi ke udara di sela-sela confetti yang jatuh bak tetesan hujan. Saya membayangkan salah satu dari anak-anak ini adalah pahlawan masa depan Indonesia yang bersama anak-anak muda lainnya bahu membahu mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

Mimpi saya mungkin berlebihan. Tapi namanya juga mimpi, tak mengapa bila berlebihan bukan ?, meski saya tak bisa membedakan ini mimpi atau sebuah harapan ?.

Seminggu sebelumnya, saya sempat merasakan kebanggaan yang membuncah dan nyaris berujung pada tetesan hangat di mata saat melihat berita tentang belasan anak-anak dari SSI Arsenal Indonesia yang berhasil menjadi runner up pada kejuaraan antar sekolah sepakbola Arsenal di London. Anak-anak itu berhasil mengalahkan beberapa wakil sekolah sepakbola Arsenal dari beberapa negara sebelum akhirnya dikandaskan oleh tim SSB tuan rumah.

Selepas pertandingan final mereka menangis, kecewa karena tak bisa menuntaskan impian mereka membawa pulang tropi terbaik itu ke Indonesia. Tapi mungkin tanpa mereka sadari, ada banyak orang di negeri ini yang merasakan kebanggaan yang membuncah melihat perjuangan mereka. Meski tak mampu membawa pulang gelar terbaik, namun perjuangan mereka ibarat sebuah oase nan sejuk di tengah kegersangan akan kebanggaan pada prestasi negeri sendiri.

Apa yang dicapai oleh anak-anak SSI Arsenal memang bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya anak-anak Makassar Football School (MFS) sudah pernah mengharumkan nama Indonesia di pentas Danone World Cup di Lyon-Perancis. Terlepas dari kontroversi yang mengatakan kalau mereka berbuat curang dengan melakukan pencurian umur, toh kenyataan bahwa mereka dapat mengalahkan bangsa-bangsa lain yang lebih maju dalam urusan sepakbola tetaplah sebuah kenyataan yang membanggakan.

Artinya adalah bahwa sebenarnya kita tak kekurangan bakat. Anak-anak Indonesia punya bakat yang sama besarnya dengan anak-anak di belahan dunia lain. Yang membedakan hanyalah pembinaan. Selepas aksi yang sekaligus menjadi etalase bakat-bakat mereka, anak-anak Indonesia akan terlantar begitu saja. Tak ada tingkatan pembinaan yang akan mengasah bakat dan kemampuan mereka. Tak ada kompetisi yang berjenjang dan sehat serta betul-betul kompetitif yang akan menempa kemampuan mereka. Anak-anak itu hanya akan berkembang seperti anak-anak yang lain, tanpa ada perhatian serius dari pihak yang berwenang. Mereka memang masih terus bermain sepakbola, tapi tanpa sebuah iklim yang kompetitif hingga akhirnya bakat mereka yang luar biasa itu akan hilang tanpa bekas.

Bertahun-tahun yang akan datang, saat anak-anak berbakat itu sudah tumbuh remaja, mereka akan bercerita dengan bangga tentang prestasi masa kanak-kanak mereka. Mereka akan menunjukkan tropi pertama-dan terakhir- yang mereka raih. Mereka bercerita kalau mereka pernah sukses bermain sepakbola. Mata mereka akan berbinar kala mengenang masa keemasan mereka yang telah berlalu.

Sementara itu di belahan dunia yang lain, anak-anak yang mungkin pernah mereka kalahkan bertahun-tahun sebelumnya  sedang memulai sebuah masa keemasan. Mereka sedang memanen hasil dari sebuah pembinaan yang berjenjang dan tentu saja berkualitas. Mereka sedang bersiap meraih mimpi mereka. Mereka sedang bersiap menikmati manisnya sebuah pembinaan yang tidak saja meningkatkan martabat mereka namun sekaligus mengangkat nama harum negeri mereka.

Negeri kita memang tak terlalu akrab dengan sebuah sistem bernama pembinaan. Negeri kita terlalu akrab dengan budaya instan, dan negeri kita terlalu gampang melupakan. Negeri kita mulai kehilagan kesabaran, mulai kehilangan semangat untuk bekerja keras menanam dan bersabar menunggu hasil panen. Padahal semua pasti tahu kalau sebuah kesuksesan yang abadi dan akan dikenang lama adalah sebuah kesuksesan yang lahir dari sebuah perjuangan panjang nan melelahkan. Bukan sebuah kesuksesan instant yang datang terlalu cepat.

Matahari mulai menghangatkan kulit kala saya berlalu dari pinggir lapangan. Anak-anak itu masih terus bersemangat mengejar dan menendang  bola. Impian saya masih terus tersimpan, meski saya ragu untuk berharap. Setidaknya sampai pembinaan menjadi barang yang dibutuhkan di negeri ini. Mungkin salah satu dari anak-anak itu adalah calon pahlawan masa depan, mungkin juga tidak....[DG]


Blog EntrySaya Bukan Anak MallAug 12, '08 11:19 PM
for everyone

Dalam kurun waktu beberapa hari belakangan ini, saya punya aktifitas yang agak di luar kebiasaan, bolak balik mall...yah, saya bilang agak di luar kebiasaan karena sebenarnya keluar masuk mall memang bukan kebiasaan saya, apalagi hobi saya. Dalam batas kewajaran, keluar masuk mall hanya saya lakukan sekali sebulan, atau paling banyak 2 kali. Itupun hanya untuk keperluan belanja bulanan dan/atau beli buku.

Sejak hari kemarin, kantor tempat saya menggali nafkah sedang mengikuti kegiatan pameran perumahan di salah satu mall terbesar di kota Makassar dan sebagai seorang staff promosi saya punya kewajiban untuk ikut serta dalam kegiatan pameran ini, meski bukan sebagai penjaga stand.

Tahun-tahun sebelumnya, acara pameran di Mall ini memang rutin kami ikuti namun saya memang agak jarang atau bisa dibilang tidak pernah mengikutinya. Paling banter hanya datang sesekali, duduk sejenak sebelum berlalu. Entahlah, Mall dan segala hiruk pikuk penuh warna warni di dalamnya tak begitu menarik untuk saya. Ada aroma lain yang selalu bikin saya tak nyaman kala berlama-lama di Mall.

Mall adalah sebuah produk modernisasi, sebuah hasil dari kapitalisme model baru yang diperhalus dengan kata globalisasi. Mall secara tidak sadar telah menggerus banyak aspek sosialisasi yang dulu begitu penting dalam kehidupan kita. Saat kita berbelanja, nyaris tak ada interaksi sosial yang terjadi, atau kalaupun ada jumlahnya tentu minim sekali. Bandingkan dengan suasana berbelanja di pasar tradisional yang masih lekat dengan ritual tawar menawar. Ritual itu secara tidak sadar membuat kita bercakap-cakap dengan orang lain, menciptakan sebuah persinggungan sosial yang ujung-ujungnya bisa berakhir pada pertemanan.

Itu baru satu hal. Mall secara tidak langsung merangsang sifat konsumerisme kita. Bahkan anak-anak kita. Saya sering menemukan anak-anak yang benar-benar telah ketagihan Mall. Setiap hari libur atau setiap kali orang tua tak bekerja, mereka merajuk minta diantar ke Mall. Berbagai permainan modern yang ada di Mall tentu saja menarik minat mereka, belum lagi hiruk pikuk dan warna warni di sana. Secara tidak sadar, kadar konsumerisme mereka meningkat dan akan terus meningkat seiring perkembangan usia mereka. Singkat kata, tak ada yang gratis di dalam Mall, bahkanpun tempat untuk sekedar berkumpul, berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Sekarang coba anda lihat sekeliling anda, cobalah bertanya pada anak-anak muda atau anak-anak ABG yang ada di sekitar anda. Berapa persen dari mereka yang belum pernah ke Mall ?, atau berapa persen dari mereka yang tak suka Mall ?. Pasti jumlahnya sedikit sekali bukan ?. Mind set yang telah terlanjur tumbuh saat ini adalah, kamu bukan anak gaul kalau belum ke Mall. Mall betul-betul menjadi sebuah ikon bagi generasi muda kita.

Entah karena alasan-alasan di atas atau karena ada alasan lain, saya benar-benar tak pernah merasa sangat nyaman bila nongkrong berlama-lama di Mall. Setiap kali ke Mall, saya akan langsung ke tujuan, tak perlu berputar-putar dan mengunjungi tempat-tempat yang tak penting.

Semalam saya duduk lama di stand pameran perusahaan kami, duduk sambil mengamati wajah-wajah orang yang berlalu lalang. Saya mencoba menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran mereka. Hanya tebak-tebakan itu yang bisa memaksa saya betah duduk berlama-lama di dalam Mall. Selebihnya saya sungguh tak nyaman. Ternyata, saya memang bukan anak Mall...

Blog EntryHectic..!!Aug 12, '08 11:16 PM
for everyone
Ah..dua minggu ini bukan minggu-minggu yang pas buat bersantai. Pekerjaan di kantor datang silih berganti, persis kayak metromini di bilangan blok M mall. Pekerjaan sebagai seorang pesuruh di bagian promosi membuat saya nyaris tak punya waktu untuk banyak bergerak dari kursi yang sialnya tak begitu empuk untuk diduduki. dalam 2 minggu terakhir, tepatnya dalam bulan ini, perusahaan kami memang sedang gencar mengadakan promosi termasuk mengikuti ajang pameran di berbagai kota di Sulawesi Selatan dan di Jawa Barat. Sasarannya tentu saja mencari orang yang butuh rumah, apalagi karena sekarang kami memang sedang membuka sebuah kawasan baru dengan 3 buah tipe yang baru.

Nah, karena urusannya dengan promosi maka salah seorang karyawan yang harus paling banyak bekerja adalah saya. Mulai dari mendesain (ciee...gaya Lu..!!) berbagai produk promosi, seperti flyer, brosur, spanduk, baliho sampe iklan koran. Setelah itu mengikuti perkembangan desain-desain tersebut ke percetakan hingga benar-benar menjadi sebuah produk promosi yang bisa digunakan sebagaimana mestinya. Prosesnya cukup panjang tentu saja, mulai dari proses pencarian ide, eksekusi sampe finishing.

Proses pencarian ide mungkin adalah proses yang cukup berat. Tantangannya berat karena selama ini perusahaan kami sudah terlanjur punya brand image sebagai salah satu pengembang terbesar di Sulawesi Selatan dan dengan sendirinya tergolong pengembang elite (ini kata orang lho..saya cuma membenarkan..hehehe). Dan image itulah yang musti saya jaga. Segala macam desain produk promosi harus terkesan high class, exclusive dan gak murahan. Berat bow...apalagi saya orang baru yang kebetulan didaulat duduk di kursi ini.

Bukan sekali dua kali hasil desain saya mendapatkan kritikan dan sesekali berupa ejekan. " Wah, desainnya biasa banget...murahan...", atau komentar yang agak ringan seperti, " Mmmm..bisa ndak ini dibikin lebih exclusive..?", adalah hal-hal yang akhirnya jadi kebiasaan.

tantangan terbesar bagi saya adalah menyelaraskan selera saya pribadi dan selera atasan saya. Perbedaan umur yang cukup jauh (plus perbedaan selera musik juga) tentu mempengaruhi. Beberapa kali saya mencoba membuat desain produk promosi yang agak bergaya muda, namun beberapa kali juga desain saya ditolak. Akhirnya saya cari jalan tengah, membuat sebuah desain yang lumayan muda namun tidak terkesan tua juga, nah..bingung kan..?. Ya pokoknya kayak sayalah...udah gak bisa dibilang muda tapi belum cukup pantas untuk dibilang tua (halah..!!).

Hari demi hari yang kulalui (weleh..!!) akhirnya mampu membuat saya semakin gampang mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah desain tersebut. Belakangan saya bisa membuat berbagai produk promosi yang hampir sesuai dengan selera saya dan lumayan memuaskan selera atasan saya. Not bad...menurut saya sih..

Dan, bagaimana rasanya saat melihat desain saya wara-wiri di beberapa sudut kota Makassar, plus di berbagai media lokal..?, hmmm..bangga tentu saja meskipun setelah melihatnya tetap saja muncul rasa tidak puas. Tidak puas karena masih harus berkompromi dengan selera orang lain, dan tidak puas karena sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa di-explore.

Tapi, saya tetap bersyukur juga kalau rasa tak puas itu masih saja muncul. Artinya saya masih punya keinginan untuk memperbaikinya dan masih punya keinginan untuk terus belajar. Yah, saya tidak ingin berhenti sampai di sini, masih banyak janda-janda tua..eh, maksudnya masih banyak hal yang harus saya pelajari. Apapun itu, saya senang bisa bekerja dengan sebuah tantangan baru, bekerja dengan sebuah kegairahan baru. Meski karena itu juga saya agak jarang menulis....maafkan saya...:(

Blog EntrySejam bersama si IkalApr 23, '08 9:53 PM
for everyone

Selasa (22/04) kemarin adalah hari yang berkesan buat saya. Awalnya biasa saja, kecuali kenyataan bahwa saya harus ke kantor berbekal kaki kanan yang masih belum betul selepas insiden sabtu kemarin. Namun, selepas jam istirahat sebuah kejadian merubah penilaian saya pada hari itu. Hari Selasa itu kemudian jadi berbeda dibandingkan hari-hari lainnya.

Sejak seminggu sebelumnya saya dan seorang bapak di kantor memang sudah mengatur rencana untuk menghadiri acara yang diadakan sekolah Islam Athirah Bukit Baruga.  Sebuah acara semacam seminar dan bincang-bincang buat anak-anak sekolah (SD-SMP dan SMA), yang agak luar biasa dari acara ini adalah bintang tamu yang dihadirkan, Andrea Hirata. Nama Andrea yang cukup fenomenal dengan “Laskar Pelangi”-nya mampu membuat saya sangat bergairah untuk hadir di acara tersebut. Selain gratis, tentu saja karena kesempatan untuk bertemu langsung dengan si Ikal plus kesempatan mendapatkan tanda tangan beliau di buku “Laskar Pelangi”.

Sebenarnya acara yang digelar kemarin terbagi atas dua bagian. Jam 8.30-11.30 pagi, Andrea jadi pembicara dalam seminar bertajuk “Mari merangkul dunia” yang berlokasi di gedung LAN RI yang tak jauh dari kantor. Sejak pagi, beberapa orang ibu-ibu di kantor sudah antusias untuk segera beranjak ke gedung tersebut. Saya belum antusias, karena ternyata acara tersebut harus dihadiri dengan bekal undangan seharga Rp. 60.000,-. Saya lebih memilih acara selepas makan siang aja, gratis dan tempatnya juga masih dalam kawasan kantor.

Akhirnya sekitar jam 2-an, pak Sjahrul (teman kantor yang sudah sama-sama janjian mau menghadiri acara itu) mengajak untuk segera ke lokasi acara. Akhirnya meskipun tertatih-tatih plus rasa nyeri di lutut, saya beranjak juga lengkap dengan kamera digital dan buku “Laskar Pelangi” yang siap ditandatangani.

Tempat penyelenggaraan acara adalah sebuah gedung serbaguna yang besar yang terletak dalam lingkungan sekolah Islam Athirah. Tempatnya memang agak jauh ke belakang dan terpisah jarak lumayan jauh dari parkiran. Sebagai “penduduk” asli, saya dan pak Sjahrul mengambil jalan pintas lewat jalur proyek sehingga mobil kami bisa parkir tepat di samping gedung. Sementara mobil yang lain tentunya parkir jauh dari lokasi acara.

Setiba di sana acara ternyata sudah berlangsung cukup lama. Andrea Hirata sudah sibuk berinteraksi dengan anak-anak yang hadir. Sebagian besar adalah anak-anak SD dan SMP, hanya sedikit dari mereka yang anak-anak SMA. Andrea beberapa kali menantang anak-anak tersebut untuk tampil ke depan membacakan puisi.

Awalnya puisi yang dibacakan adalah puisi yang diambil dari buku “Laskar Pelangi”. Setelah itu, Andrea menaikkan tantangan. Dia meminta beberapa orang anak untuk membaca puisi spontan yang tercipta saat itu juga. Yang menarik adalah seorang anak yang mampu menciptakan sebuah puisi indah untuk Andrea Hirata yang katanya diciptakan baru beberapa menit sebelumnya.

Sang pencipta puisi adalah seorang anak SD yang kalau tidak salah ingat baru duduk di kelas IV. Puisi yang diciptakannya sangat lumayan untuk ukuran anak SD, Andrea sendiri nampak terkagum-kagum.

Setelah serangkaian acara bersama anak-anak sekolah tersebut, session bersama Andrea Hirata ditutup dengan acara tanda tangan buku dan foto bersama. Awalnya saya agak minder juga saat harus bersaing dengan anak-anak sekolahan, tapi saat guru-guru mereka turun tangan dan menertibkan anak-anak yang penuh semangat merubungi Andrea itu, sayapun jadi ikut-ikutan beringsut maju. Buku yang saya sodorkan akhirnya ditandatangani oleh beliau.

Saya juga sempat berfoto bersama Andrea. Sebenarnya tidak bisa dibilang berfoto bersama karena saat itu saya hanya berdiri di belakang Andrea yang sibuk menandatangani buku dan kemudian dijepret. Jadi, mungkin lebih tepat kalau dibilang numpang nampang di belakang Andrea.

Akhirnya saat anak-anak kecil itu makin tidak bisa dikendalikan dan dengan penuh nafsu merubungi Andrea untuk sekedar minta tanda tangan dan foto bareng, saya dengan tertatih-tatih beringsut mundur dan kemudian menuju ke teras gedung dan menyulut sebatang rokok sambil menunggu pak Sjahrul keluar.

Baru beberapa isapan rokok, saya melihat Andrea diiringi seorang pejabat dari sekolah Athirah berserta pak Sjahrul mendekat ke arah saya. Saat itu hujan turun cukup deras, dan karena mobil yang digunakan Andrea parkirnya jauh dari lokasi acara maka tak ada pilihan lain bagi Andrea selain minta diantar sampai ke gedung LAN RI, tempat mobil yang akan mengantarnya ke bandara terparkir. Dan, satu-satunya mobil terdekat yang bisa dicapai adalah mobil punya pak Sjahrul.

Pak Sjahrul tentu saja dengan senang hati berminat mengantar Andrea sampai ke gedung LAN RI. Saya pun tak kalah gembiranya, dengan cepat seolah-olah tak merasakan sakit di bagian lutut, saya bergegas ke arah mobil kijang punya pak Sjahrul. Membuka pintu depan samping sopir untuk Andrea dan mengambil posisi di kursi penumpang bagian tengah untuk saya sendiri.

Akhirnya Andrea dan seorang managernya naik ke mobil, dan mobilpun segera meninggalkan lokasi acara. Ah, rasanya betul-betul seperti mimpi. Duduk beberapa senti di belakang Andrea Hirata yang terkenal itu. Ketika mobil mulai berjalan, saya minta ijin untuk memotret beliau, sekedar bukti kalau saya benar-benar pernah semobil bersama Andrea.

Sepanjang perjalanan menuju gedung LAN, saya sempat ngobrol ringan dengan Andrea, termasuk mengajukan beberapa pertanyaan yang mengelayuti pikiran saya sehabis membaca Laskar Pelangi. Sebenarnya ada banyak daftar pertanyaan yang ingin saya ajukan, tapi semuanya seperti hilang lenyap tak berbekas. Saya tiba-tiba bingung tak tahu musti berkata apa. Rasanya, it’s too good to be true..

Setiba di gedung LAN, pak Sjahrul ternyata musti kembali ke gedung sekolah Athirah gara-gara seorang anggota menajemen Andrea masih tertinggal di sana. Akhirnya saya kemudian hanya tinggal bertiga di teras LAN bersama Andrea Hirata dan seorang pejabat sekolah Athirah.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga kemudian mulai mengajak ngobrol. Andrea ternyata seorang yang sangat sederhana dan low profile. Meskipun bukunya sudah laris di mana-mana dan dia sudah tergolong public figure atau artislah istilahnya, namun kesan sederhana tetap terpancar dari caranya bertutur dan berpenampilan.

Hari itu Andrea memakai kemeja lengan panjang berwarna merah marun yang lengannya dilipat. Celananya jins berwarna hitam dengan sepatu kets berwarna hitam juga. Di kepalanya bertengger topi yang mirip baret, ciri khasnya selama ini.

Dari caranya bertutur saya bisa menangkap kesan kalau Andrea adalah orang yang sangat sopan. Sama sekali tidak terlihat angkuh, bahkan setiap kali berbicara atau ditanya dia nampak memperhatikan, meskipun wajahnya sudah terlihat lelah. Sesekali dia juga bertanya tentang beberapa hal, sama sekali tidak ada kesan ogah-ogahan.

Cukup lama juga kami ngobrol di teras gedung LAN itu, dan cukup banyak juga pertanyaan maupun obrolan yang terjadi. Saya bertanya antara lain tentang proses kreatif di balik terciptanya “Laskar Pelangi”, termasuk pertanyaan tentang kapan “Maryamah Karpov” dirilis. Menurut Andrea, buku pamungkas dari tetralogi tersebut akan dirilis bersamaan dengan film “Laskar Pelangi” yang sementara ini sedang dibesut oleh Riri Reza.

Saya juga sempat menanyakan tentang keberadaan Arai. Menurut Andrea, kisah tentang Arai dan anggota Laskar Pelangi lainnya akan dikisahkan di buku terakhir nanti. Jadi, untuk sementara Andrea tidak bisa menceritakan lebih detail tentang mereka.

Saat sedang mengobrol itu, saya mencoba menghubungi Ofie-istri saya- untuk sekedar memberitahu keberuntungan yang sedang saya jalani. Dan untuk lebih memperjelasnya, saya sempat meminta Andrea untuk berbicara dengan istri saya di telepon. Sebuah percakapan singkat yang katanya mampu membuat istri saya jadi grogi.

Andrea juga sempat menceritakan pengalaman-pengalamannya semenjak menjadi public figure seperti sekarang ini, termasuk tentang kegilaan beberapa fansnya atau kehebohan beberapa acara bedah buku yang digelarnya. Andrea juga sempat menceritakan sedikit tentang bagaimana kehidupan ibu Muslimah dan anggota Laskar Pelangi lainnya saat ini yang mana mereka sedikit shock gara-gara jadi terkenal dan kemudian dicari-cari orang.

Di bagian lain Andrea sempat bertanya tentang acara bedah buku di Makassar. Kami juga sempat menggunjingkan sejenak tentang Aan Mansyur yang ternyata dikenal dengan baik oleh Andrea Hirata. Menurut Andrea, Aan yang baru saja merilis buku kumpulan puisinya-Aku hendak pindah rumah-adalah seorang penulis yang bagus. Andrea mengaku menikmati novel Perempuan Rumah Kenangan hasil karya Aan yang dikirim langsung oleh sang penulis kepadanya.

Ada juga bagian saat kami ngobrol tentang fenomena booming-nya karya sastra di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, termasuk tentunya ‘Laskar Pelangi” dan “Ayat-Ayat Cinta”. Obrolan terakhir kami sebelum pak Sjahrul datang membawa sang anggota manajemen Andrea adalah tentang proses film “Laskar Pelangi” yang sementara sedang dikerjakan itu. Dalam obrolan ini ada beberapa hal yang bersifat rahasia yang diungkapkan oleh Andrea yang mungkin lebih baik bila tidak saya tuliskan di sini.

Akhirnya karena memang sedang terburu-buru untuk segera kembali ke Jakarta, Andrea dan timnya mohon pamit. Di tengah hujan rintik-rintik yang masih membasahi kota Makassar, Andrea berlalu dari hadapan kami. Ah, rasanya puas banget bisa bertemu langsung dengan penulis yang fenomenal itu. Sebuah pengalaman berharga yang harganya pasti sangat mahal. Saya tiba-tiba jadi merasa sebagai orang yang sangat beruntung. Bagaimana tidak, saya tidak perlu berdesak-desakan apalagi membayar untuk mendapatkan kesempatan ngobrol langsung secara eksklusif dengan seorang Andrea Hirata.

Andrea ternyata memang sesederhana si Ikal..dan satu jam bersama si Ikal adalah sebuah momen yang akan saya kenang untuk waktu yang sangat lama.


Blog EntryCedera..!!Apr 23, '08 9:51 PM
for everyone

Cedera bagi para pemain sepakbola adalah hal yang wajar, hampir semua pemain-profesional maupun amatir-pasti telah pernah merasakan cedera gara-gara bermain sepakbola. Tak terkecuali saya yang asli hanya pemain amatir, yang bermain bola hanya sekedar untuk mencari keringat dengan bekal kemampuan sangat seadanya.

Cedera engkel karena terkilir atau karena tackling dan benturan adalah cedera yang sudah sangat kerap saya alami. Kedua kaki saya sudah sangat kebal dengan cedera semacam itu. Bengkak di mata kaki hingga sulit berjalan adalah hal yang sudah biasa. Cedera yang paling saya takuti adalah cedera di bagian lutut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya bila mengalami cedera pada lutut. Cedera lutut adalah cedera yang paling ditakuti para pesepakbola profesional.

Sudah banyak pemain sepakbola profesional yang terpaksa pensiun dari lapangan hijau atau terpaksa melihat sinar karirnya meredup karena cedera di bagian itu. Just Fontaine yang mencetak 13 gol di piala dunia 1958-Swedia terpaksa pensiun di usia dini gara-gara ligamen luutnya bermasalah. Ruud Gullit yang pernah kondang sebagai salah satu dari trio Belanda yang sangat bersinar di akhir 80-an dan awal 90-an terus menurun penampilannya gara-gara cedera di lutut. Yang paling anyar adalah Michael Owen, si wonder boy yang pernah berkilap bersama Liverpool itu terpaksa hilang dari peredaran sekian lama setelah lututnya juga bermasalah. Dan ada banyak contoh lain lagi yang mampu membuat saya bergidik ngeri membayangkan cedera tersebut.

Sabtu kemarin (19/04), seperti biasa saya dan teman-teman kantor mencari keringat dengan bermain bola. Dan seperti biasa juga, saya selalu bermain dengan penuh semangat. Sepakbola adalah olahraga yang sangat cocok bagi saya untuk menumpahkan segala emosi positif dan negatif. Saya bisa berteriak penuh semangat, dan bermain penuh semangat. Tak heran bila teman-teman mengenal saya sebagai salah seorang bek yang tak kenal kompromi dan cenderung keras (namun tidak kasar) bila bermain.

Dalam suatu kesempatan perebutan bola, secara tidak sengaja saya melakukan tumpuan yang tidak benar. Kaki kiri saya terangkat untuk melindungi bola sehingga total semua tumpuan berada pada kaki kanan. Saat kaki kiri di atas itulah terjadi benturan yang menyebabkan kaki kanan saya mendapatkan beban di luar kemampuannya. Karena tumpuan yang tidak benar itu maka rasanya lutut saya bergeser, saya bisa merasakan ada sesuatu yang berderak di lutut saya.

Sakit luar biasa, tanpa sadar saya langsung berteriak kesakitan, berguling dan mengaduh. Sialnya, teman-teman selama ini telah terbiasa melihat saya berakting kesakitan saat terjadi benturan. Sekali ini mereka kembali mengira saya hanya berakting. Memang biasanya dalam sebuah benturan, saya suka berakting seolah-olah pemain profesional yang sedang cedera, lengkap dengan teriakan dan gestured meminta pertolongan. Tak heran kalau teman-teman hanya tersenyum-senyum, bahkan saat beberapa detik kemudian saya tidak juga berdiri seperti biasa, mereka mulai kesal dan berucap : ” sudahmi..ayo bediri…”. Padahal waktu itu sakit yang saya rasakan sangat luar biasa, nyaris tak tertahankan.

Mereka baru sadar kalau saya tidak main-main ketika detik-detik berlalu dan saya masih mengaduh sambil berteriak kesakitan. Salah seorang teman langsung memberikan pertolongan pertama dengan menarik kaki saya. Mungkin karena tidak berbekal pengetahuan yang cukup tentang anatomi kaki, sehingga pertolongan tersebut saya rasa sia-sia. Sakitnya masih tetap terasa. Akhirnya pertandingan dilanjutkan, saya beringsut ke pinggir lapangan dan berbaring di sana sambil tetap menahan sakit. Saya tidak bisa menggerakkan kaki kanan, rasanya kaki saya terlepas dan mati rasa dari bagian lutut ke bawah. Ah, sebuah mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Dari lapangan, saya dibonceng teman ke kantor. Sumpah, saat itu saya mengira kaki saya patah, sebabnya karena saya sama sekali tidak bisa menumpukan berat badan pada kaki kanan saya. Dari parkiran saya dipapah dua orang teman ke dalam kantor dan segera dibaringkan di sofa di ruang tunggu. Teman-teman segera merubung saya, sebagian-utamanya para wanita-langsung bergidik ngeri melihat lutut saya yang sudah mulai membengkak. Rasa nyeri pada sendi lutut saya rasanya makin bertambah.

Seorang ibu teman kantor segera berinisiatif memanggil dukun pijat yang rumahnya tak jauh dari kantor. Saya makin bergidik ngeri. Dukun pijat adalah manusia terakhir yang ingin saya temui-selain dokter tentu saja. Saya bisa membayangkan eksekusi yang akan dilakukan sang dukun pada lutut saya.

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah melihat prosesi pemijatan pada lutut seorang teman yang cedera. Sang teman ini kebetulan adalah preman, dalam soal berantem dia sama sekali tak punya rasa takut sedikitpun, namun dalam proses pemijatan tersebut saya bisa melihat sendiri bagaimana si teman yang preman ini sampai menangis dan memanggil ibunya…tentu saja karena rasa sakit yang tak tertahankan. Rasanya agak berdebar juga menantikan kedatangan sang dukun pijat.

Akhirnya tak lama kemudian, sang dukun-yang adalah seorang ibu berusia separuh baya-datang juga. Tampilannya sederhana, namun di mata saya dia tiba-tiba berubah jadi menakutkan layaknya seorang algojo. Setelah melakukan observasi sejenak pada lutut saya, beliau segera meminta beberapa orang untuk memegangi saya. Alamat buruk-pikir saya. Pasti dia sudah mengantisipasi sebuah reaksi luar biasa dari saya sebagai pasiennya sehingga memandang perlu untuk meminta bantuan 3 lelaki lainnya untuk memegangi saya.

Saya betul-betul hanya bisa pasrah, tentu saja dengan debar jantung yang tak karuan. Teman-teman mulai merubungi saya, sebagian dari mereka berusaha melucu, mungkin maksudnya biar saya tidak tegang. Tapi sumpah, lelucon mereka jadi terdengar garing dan bahkan menjengkelkan. Saya lebih memilih menyibukkan diri dengan bertanya-tanya akan ke arah mana penyiksaan ini berlangsung.

Dan..benar saja…si ibu dengan tampang tak berdosa mulai mengurut lutut saya. Sesekali dia seakan-akan membetulkan letak tulang atau sendi yang bergeser. Rasanya luar biasa sakit. Seandainya di sekitar saya tak ada teman-teman kantor yang merubung-sebagian adalah cewek-cewek-mungkin saya sudah menangis atau setidaknya berteriak sekuat tenaga. Rasa gengsi masih bisa menahan saya untuk pura-pura tak terlalu kesakitan. Tapi…saat sang dukun melipat kaki saya, saya menyerah…tak tahan lagi hingga akhirnya berteriaklah saya.

Gila..!!!, saat menulis cerita inipun saya bisa membayangkan rasa sakit saya waktu itu. Kaki yang dibengkokkan sedikit saja rasanya sudah sangat sakit, waktu itu dipaksa hingga betul-betul bengkok dan betis bertemu dengan paha…saya tiba-tiba langsung pusing, ruangan seakan-akan berputar-putar tak karuan. Dalam hati saya berkata, kalau sampai prosesi pembengkokan itu diulangi sekali lagi, saya mungkin akan pingsan…apalagi saat itu perut saya belum terisi makanan sedari pagi.

Syukurlah karena ternyata siksaan dengan cara dibengkokkan itu hanya terjadi sekali saja. Berikutnya hanya berupa pijatan sederhana yang meski sakit tapi masih bisa saya tahan. Entah berapa lama saya berada dalam acara penyiksaan itu, yang saya tahu rasanya sungguh sangat lega ketika si Ibu menyelesaikan pekerjaannya dan memberi tips-tips, pertanda acara penyiksaan sudah selesai. Keringat dingin membasahi kening, dan jantung berdebar jauh lebih kencang. Saya bersyukur karena penyiksaan telah berlalu dan gengsi saya juga tidak jatuh-jatuh amat.

Saat lain yang cukup mendebarkan adalah ketika saya hendak balik ke rumah. Dengan susah payah saya mengendarai motor sendirian. Sangat pelan dan sangat hati-hati. Syukurlah saya akhirnya bisa tiba di rumah dengan selamat. Bengkak di lutut memang sudah mulai kempes, tapi rasa nyerinya masih tetap. Pada malam hari, rasa nyeri itu malah makin bertambah, hingga tidurpun rasanya jadi tak nyenyak. Ah, betul-betul sebuah mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Hari minggu kemarin, saya diantar bapak ke dukun pijat yang lain. Mencari second opinion ceritanya. Bedanya dukun yang ini tidak pakai acara urut-mengurut atau pijat-memijat, hanya dengan membasahi lutut saya dengan air yang sebelumnya sudah diberi bacaan khusus. Sebelum berangkat saya sudah mewanti-wanti agar prosesi penyiksaan seperti yang saya alami sebelumnya tidak sampai terjadi lagi, dan Bapak meyakinkan saya. Pulangnya saya juga dibekali sebotol air untuk mengompres cedera pada lutut saya. Setelah dua hari menggunakan air dari sang dukun, rasanya agak lumayan. Saya sudah bisa berjalan meski tertatih-tatih, kaki kanan sudah bisa dibikin tumpuan, meski nyerinya masih suka datang.

Ah, betul-betul cedera yang menakutkan. Tapi setidak-tidaknya saya bangga karena sudah merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Ruud Gullit, Michael Owen atau Ronaldo…hehehehe…Ah, mudah-mudahan cedera ini tidak sampai membuat saya trauma untuk kembali bermain bola nanti bila telah sembuh..

Doakan saya ya…


Blog EntryAku Menemukan Duniaku (?)Mar 6, '08 10:10 PM
for everyone

“Kamu betul-betul menemukan duniamu, Pul..”

Ini komentar singkat seorang kawan dalam sebuah percakapan antar kami via YM. Kawan ini-seorang wanita-yang sudah saya kenal sejak masih berseragam putih merah sekitar 20an tahun yang lalu. Pernyataan yang dia keluarkan di atas merujuk pada semangat saya yang besar untuk menulis, entah di blog pribadi maupun di Panyingkul.com. Teman ini-menurut dia-melihat bahwa saya seakan-akan seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru. Penuh semangat. Saya ingat kalau teman saya ini juga pernah menyematkan gelar fanatik pada saya. Menurut dia, saya adalah seorang yang sangat mudah fanatik pada sesuatu yang saya suka. Mungkin ada benarnya.

Kembali ke soal menulis. Yup, musti saya akui bahwa nyaris setahun terakhir ini semenjak mengenal blog dan Panyingkul.com, energi terbesar dalam hidup saya nyaris sepenuhnya saya curahkan untuk menulis. Semangat tinggi, atensi besar dan fokus utama selalu saya berikan setiap kali saya berada depan monitor komputer dan mulai memencet deretan-deretan kibor untuk menorehkan kalimat-kalimat yang selanjutnya akan menghiasi blog pribadi atau panyingkul.com.

Menulis sebenarnya bukan barang baru buat saya. Sejak masih belia saya sudah seringkali mencoba membuat cerita-cerita pendek yang sayangnya tak ada satupun yang saya selesaikan. Menulis adalah sebuah paket yang menyertai kegemaran saya membaca. Dari bacaan-bacaan semasa kecil saya (termasuk Bobo, Ananda, dll.) saya selalu terinspirasi untuk membuat cerita-cerita sendiri. Saya seorang penghayal, berbagai macam hayalan selalu saja mengisi kepala saya dan menemani hari-hari saya. Hanya saja saya tak punya yang namanya konsistensi, dan tak juga punya seorang tutor atau minimal orang yang memberi saya semangat untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Hingga akhirnya tulisan-tulisan saya terbengkalai tanpa pernah ada yang mencapai klimaks.

Saat tumbuh remaja, saya tak juga berhenti mencoba tanpa pernah berhasil menyelesaikannya. Belakangan saya mulai rajin menulis di diari. Sebuah buku besar bersampul kulit warna hitam menjadi teman curhat saya. Meski tak tiap hari, tapi saya mencoba untuk selalu mengisi buku diari itu dengan berbagai tulisan-tulisan tentang kejadian-kejadian bersejarah atau kejadian-kejadian yang pantas untuk saya kenang. Terkadang pula hanya berisi gerutuan, umpatan, makian atau sekedar ekspresi gembira, jatuh cinta atau patah hati. Saya tak pernah terlalu nyaman untuk curhat pada orang lain, jadi buku harian kemudian menjadi sahabat saya.

Belakangan ketika mulai bersentuhan dengan dunia kerja, kebiasaan menulis mulai saya tinggalkan. Nyaris tak ada waktu luang lagi. Sebagian besar waktu saya tercurah untuk belajar dan mengenali dunia baru yang sama sekali asing buat saya. Saya hanya sempat sesekali menulis saat jatuh cinta pada beberapa orang gadis. Hanya itu, tak ada perkembangan berarti.

Segalanya berubah saat tahun 2007 lalu, sekitar bulan April saya berkenalan secara virtual dengan seorang Jammers (sebutan buat para penggemar Pearl Jam) asal Surabaya, Hilman Taofani. Blog milik Hilman sangat mempesona saya. Gelitikannya mampu membuat sebuah bara yang sebenarnya hampir padam yang ada dalam diri saya mendadak menyala-nyala. Sebuah ruang ekspresi yang tak bersekat dan saya pun tak tahan godaannya.

Mulailah saya ikut-ikutan arus nge-blog. Awalnya tulisan saya-harus saya akui-sangat garing. Tak berstruktur dan sama sekali tak menarik. Perlahan-lahan, saya mencoba belajar untuk memperbaikinya. Learning by doing, mungkin itu kata tepatnya. Pada fase ini, Hilman banyak memberi saya bantuan, tentu saja tanpa dia sadari.

Titik balik paling terasa dalam dunia menulis saya adalah saat “dipaksa” mengirimkan tulisan ke Panyingkul.com oleh daeng Rusle. Seorang sobat blogger yang sekarang berdiam di Balikpapan yang sudah terlebih dahulu bergabung dengan Panyingkul.com. Paksaan yang awalnya tidak saya tanggapi serius. Rasa rendah diri dan tidak PD terlebih dahulu menyergap saya.

Waktu itu saya baru sesekali mengunjungi Panyingkul.com dan selalu beranggapan kalau tulisan-tulisan yang dimuat di sana adalah hasil karya para profesional yang sudah expert dalam hal tulis menulis. Tentu sangat jauh bila dibandingkan dengan saya yang baru mulai menjejakkan langkah dengan tertatih-tatih.

Namun, dorongan teman-teman di komunitas blogger Makassar-utamanya daeng Rusle dan pak Amril-membuat saya akhirnya menebalkan muka dan mengirim dua tulisan sekaligus. Pengalaman saat berurusan dengan pekerja PLN Gowa dan pengalaman mengenang bioskop-bioskop tua di Makassar.

Saat tulisan tentang bioskop itu tayang, rasanya senang bukan kepala. Kepala saya pasti membesar beberapa senti. Rasanya mungkin sama dengan rasa yang ada di dada para penyanyi kala pertama kali mendengar albumnya diputar di toko kaset. Senang, bangga, dan mungkin sedikit sombong.

Tulisan saya yang dimuat pertama kali itu kemudian saya jadikan pemicu untuk tulisan-tulisan berikutnya. Saya tak mau berpuas diri, saya harus belajar lebih giat dan tak boleh berhenti sampai di sini, apalagi untuk bersombong-sombong ria. Beruntung saya bertemu dengan orang-orang hebat yang rendah hati yang mau mengajarkan banyak hal pada saya, hingga kemudian-menurut saya-sedikit demi sedikit saya bisa memperbaiki mutu tulisan saya. Tentu masih sangat jauh dari sempurna, tapi setidak-tidaknya saya selalu mencoba untuk menjadi lebih baik.

Saya merasa sudah menemukan passion-nya. Passion yang ditambah dengan konsistensi, sensitifitas dan sedikit nekad,mungkin itu senjata saya dalam menulis. Teman saya mungkin benar, saya serasa menemukan sebuah bentuk dunia baru di mana saya kemudian merasa sangat kecil dan akhirnya tertantang untuk terus belajar.

Saya bisa bilang kalau bergabung dengan Panyingkul adalah sebuah anugerah yang besar. Bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu siap membagi ilmu, bergaul dengan orang-orang yang siap menjadi tutor dan tak lupa untuk terus saling menyemangati. Apa yang lebih sempurna dari hal seperti itu ?.

Satu lagi, buat saya pribadi Panyingkul.com adalah tempat saya menebus dosa. Kenapa menebus dosa ?, karena saya menganggap bila saya hanya menggunakan blog sebagai media untuk memajang tulisan-tulisan yang bersifat pribadi, narsis, dan nyaris tak punya nilai lebih buat orang lain maka itu adalah sebuah kerugian. Panyingkul kemudian menantang saya untuk membuat sebuah tulisan yang berkualitas dan-Insya Allah-punya makna buat orang lain. Bukankah ini menyenangkan ?. Saat sedang semangat-semangatnya menulis, saya punya dua media yang bisa memuat semua kebutuhan saya. Kebutuhan akan ruang untuk berbicara dengan diri saya pribadi dan satu lagi sebuah ruang tempat saya bisa berguna untuk orang lain. Seimbang kan ?.

Terakhir, saya hanya berharap dunia saya ini bisa saya genggam selama mungkin. Bisa saya nikmati selama mungkin. Bahkan, saya dan istri sudah punya cita-cita jika suatu saat nanti kami akan menikmati hari tua di sebuah desa di Bantul-Jogjakarta, dan hidup dari menulis. Ah...cita-cita yang sederhana bukan ?, tapi setidak-tidaknya kami yakin cita-cita itu akan membuat kami bahagia..

Jadi, mari menulis....


Blog EntryA MiracleMar 3, '08 2:30 AM
for everyone

Hari jum’at kemarin (29/2) adalah hari yang cukup emosional bagi saya. Hari itu, saya mengantar istri saya-Ofie ke dokter kandungan. Dari monitor komputer yang tersambung ke alat USG kami bisa melihat langsung “isi perut” Ofie. Di sana, sedang tumbuh sesosok tubuh. Saat ini di usia kandungan yang baru 9 minggu, bentuknya memang belum begitu kelihatan. Hanya ada sedikit onggokan kecil dengan satu bagian tubuh yang berdenyut. Kata dokter itu jantungnya.

Subhanallah...kami hanya betul-betul takjub. Ini memang bukan pertama kalinya kami melihat keajaiban Tuhan ini. Dulu, waktu anak pertamapun kami setiap bulannya selalu diberi kesempatan untuk melihat aksi si kecil di dalam rahim Ofie. Meski begitu, tak urung rasa takjub dan bahagia tetap menyelinap ke dalam hati kami.

Agak berbeda dengan reaksi kami sebulan yang lalu saat pertama kali mendapati kalau ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahim Ofie. Waktu itu kami sedikit shock. Terus terang kami belum siap. Bukan karena alasan materi, itu tak pernah kami persoalkan. Bagaimanapun kami selalu yakin kalau rejeki ada yang mengatur. Masalah terbesar kami adalah pada kesiapan mental dan lingkungan. Ofie masih merasa belum nyaman dengan lingkungannya yang sekarang, masih banyak hal yang sering membuatnya depresi.

Selama beberapa hari kami berdua-utamanya Ofie-belum bisa menerima dengan lapang dada anugerah ini. Ironis memang, saat banyak saudara kita yang lain yang masih tetap berjuang sekuat tenaga demi mendapatkan keturunan, kami yang diberi rejeki malah tidak bisa menerimanya dengan lapang dada.

Namun, akhirnya kami berdua sadar kalau ini adalah betul-betul sebuah rejeki, sebuah anugerah sekaligus sebuah titipan. Kami harus menerimanya, kami harus berbahagia. Dan..Alhamdulillah, sekarang kami berdua sudah bisa saling bergandengan tangan, saling menguatkan dan berusaha saling menguatkan demi menjaga anugerah ini. Sebuah anugerah maha besar dari yang Maha Kuasa..

Kepada para pembaca, teman-teman dan saudara-saudara sekalian dengan segala kerendahan hati kami mohon doa restunya. Semoga kehamilan kali ini bisa berjalan dengan lancar mengingat riwayat kehamilan Ofie yang kurang begitu bagus. 4 kali hamil dan 3 kali keguguran. Semoga kehamilan kali ini bisa berakhir dengan lahirnya anak kedua kami dengan sehat, demikian juga ibunya..Aminn..

 

Saya mohon doa tulus teman-teman semuanya..


Blog EntryBad Boy !!Feb 27, '08 7:35 PM
for everyone

Tadi pagi (rabu 27/2) saya ke kantor dengan sebuah penampilan yang tak biasa. Kemeja putih lengan panjang yang disetrika licin plus celana kain warna hitam yang juga tak kalah licinnya dan disempurnakan oleh sepatu kulit warna hitam yang mengkilap karena baru disemir. Penampilan saya ini tak urung menimbulkan pertanyaan pada beberapa orang teman yang saya temui sepanjang koridor kantor menuju ke ruangan saya. Pertanyaan paling umum adalah, “ lagi ada acara apa ?, tumben rapih..”, sebagian ada yang tak bisa menahan tawanya melihat penampilan “aneh” saya pagi itu.

Saya tidak menyalahkan mereka. Pagi itu saya memang kelihatan beda dan aneh. Biasanya saya menyambangi kantor dengan kostum yang relatif santai kalau tidak mau dibilang cuek. Kemeja lengan pendek (sebagian besar bermotif kotak-kotak) dengan jins atau celana kargo dan cukup dilengkapi dengan sandal gunung atau malah kadang sandal jepit. Yah,itulah kostum sehari-hari saya. Sangat berbeda dengan kebanyakan teman pria di kantor yang selalu rapi jali.

Penampilan saya ini kemudian melengkapi image sebagai “anak bandel” yang sudah melekat cukup lama di jidat saya. Yah, sejak beberapa tahun belakangan ini saya bermetamorfosis menjadi seorang anak bandel yang doyan melawan perintah atasan. Berbeda dengan kondisi saya sebelum masuk milenium kedua, saat itu saya adalah anak manis yang penurut dan tak banyak tingkah.

Tadi pagi, entah angin apa yang membuat saya terbangun dengan sebuah ide untuk tampil rapih. Rasanya saya sudah lupa bagaimana rasanya ke kantor dengan penampilan serapih itu. Sudah lama sekali saat terakhir kali saya menggunakan kostum yang licin dan rapih seperti ini.

Saya sendiri hampir tidak sadar sejak kapan dan alasan apa yang membuat image saya berubah. Seingat saya ini gara-gara semakin banyaknya aturan-aturan baru yang-bagi saya-kedengaran aneh bin ajaib bin konyol. Beberapa aturan baru tersebut lahir tanpa pertimbangan yang jelas, unsur keadilan kadang diabaikan, sehingga terkadang aturan-aturan tersebut terkesan artifisial dan tidak menyentuh kebutuhan dasar sebagai karyawan. Sebagian lagi  terkesan menakut-nakuti karyawan. Secara tidak sadar aturan-aturan tersebut kemudian memantik api pemberontakan dalam diri saya yang sepertinya memang sudah lama tak menyala. Hingga tanpa sadar, saya sudah menjadi seorang anak bandel.

Keadaan makin diperparah dengan munculnya berbagai acara dan seremonial yang-sekali lagi bagi saya-intinya tak jauh-jauh dari licking ass dan cari muka demi keselamatan sendiri. Hal yang sangat gampang memicu rasa mual dari perut saya.

Sekedar intermezzo, saya suka heran dan tergeli-geli sendiri melihat beberapa orang teman kantor dengan gampangnya tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan boss kami yang bagi saya sangat garing dan jauh dari kesan lucu. Kadang saya berpikir, mungkinkah selera humor saya sudah sangat jeleknya sampai-sampai sebuah guyonan yang mampu membuat orang lain tertawa terbahak-bahak ternyata sama sekali tak mengusik saya bahkan untuk sekedar tersenyum simpul. Ataukah itu memang salah satu bagian dari praktek licking ass..??.

Dan..waktu yang bergulir kemudian semakin membuat saya jadi bandel. Dan cap itu seakan-akan terbuat dari sebuah besi yang dipanaskan dan ditempelkan di jidat saya. Tak urung, mulai dari atasan langsung saya, direktur di divisi saya hingga manager HRD sepakat dan mufakat dengan satu kata; Ipul memang bandel..!!!.

Penolakan saya bukan dalam bentuk kata-kata melainkan dalam bentuk perbuatan dan disempurnakan dengan bentuk penampilan. Meski tak terlalu ekstrem hingga mencoba tampil tak sopan namun penampilan saya bisa dibilang sangat jauh bila dibandingkan beberapa orang teman yang lain. Khususnya dalam hal memilih alas kaki. Dalam beberapa bulan terakhir, baru tadi pagilah saya memilih sepatu untuk menemani saya ke kantor. Selain itu hanya ada sandal gunung atau sandal jepit yang jadi kawan akrab saya. Dasarnya saya memang tak suka bersepatu, dan itu kemudian mendukung pemberontakan saya. Well, untungnya sekarang saya sudah tak betah berambut gondrong, tidak seperti 6 tahun lalu saat saya memelihara rambut hingga sepundak.

Berbagai ancaman, gosip miring dan kecaman tak henti-hentinya saya terima. Satu-satunya suara yang sempat membuat sedikit melemah adalah suara lembut dari atasan saya, seorang wanita yang saya hormati. Tapi cuma sebentar, karena selanjutnya saya kembali asyik memberontak dengan cara saya sendiri. Entah sampai kapan...


Blog EntryPelecehan Seksual ?Feb 27, '08 7:34 PM
for everyone

“kemarin malam, waktu mau pulang saya ketemu pak CW di parkiran. Tau ndak ?, dia ngajakin short time, hiiyyy…ngeri deh..”

“Hah ?, dia bilang begitu ?. Trus, kamu jawab apa ?”.

“ ya aku bilang aja; ih, sembarangan..saya ada yang nunggu di rumah..”

“hanya itu ?”

“iyya…”

Itu sepotong obrolan saya dengan seorang teman cewek-YY- di kantor saya suatu hari. Terus terang, obrolan itu bikin saya bergidik dan kemudian menetap cukup lama di kepala saya hingga menjadi sebuah pertanyaan. Saya menganggap kejadian di tempat parkir di suatu malam itu adalah sebuah bentuk pelecehan seksual terhadap wanita, dan di sisi lain saya merasa cukup sedih melihat reaksi teman saya YY yang-menurut saya-sangat lembek dalam menghadapi kasus pelecehan seksual seperti itu.

Teman saya YY adalah seorang wanita berusia 25 tahun, dari segi penampilan dia cukup lumayan. YY ini adalah ibu muda, punya anak usia 1 tahun lebih dengan usia perkawinan 2 tahun lebih. Suaminya kebetulan bekerja di sebuah proyek yang lokasinya di luar kota Makassar, sehingga frekuensi pertemuan mereka cukup jarang. Anak-anak mengistlahkannya SMS-Sabtu Minggu Setor.

Nah, keadaan si YY ini kemudian menimbulkan asumsi pada beberapa orang rekan kantor kami bahwa dia kesepian.  Parahnya lagi, YY termasuk wanita yang suka blak-blakan bila bicara tentang kehidupan seksual. Bahkan sepertinya dia cukup bersemangat untuk berkumpul dalam sebuah “majelis” yang asyik membahas hal-hal pribadi seperti itu. Terkadang saya suka risih sendiri dibuatnya. Tak heran bila kemudian muncul reaksi berlebihan dari beberapa teman kantor (yang semuanya adalah lelaki beristri)  untuk menggoda YY. Sebagian besar sih berupa godaan secara verbal (saya belum pernah melihat ada yang menggodanya secara fisik) dari mulai guyonan jorok, pertanyaan jorok hingga ajakan-ajakan seperti yang saya ceritakan di atas.

Saya menilai kalau teman saya ini cukup permisif pada para pelaku pelecehan tersebut. Bahkan pada kasus terakhir, saat saya mencoba menyarankan kepadanya untuk lebih tegas dan menunjukkan reaksi yang lebih keras kepada para pelaku untuk menunjukkan kalau dia tidak nyaman diperlakukan seperti itu, YY hanya berkata; “ ah, kau terlalu serius menanggapinya Pul. Bapak-bapak itu kan hanya bercanda, mereka memang suka usil”. Saya jadi gregetan sendiri dibuatnya.

Entah komentar ini lahir karena YY memang menikmati menjadi objek, atau karena pemahaman yang sangat kurang tentang pelecehan seksual pada wanita ?. Tapi dari penuturannya, dia sepertinya merasa tidak nyaman juga terkadang diperlakukan sebagai objek. Jadi saya mengambil kesimpulan kalau YY memang masih kurang paham tentang pelecehan seksual terhadap wanita, sehingga hal-hal seperti di atas yang di negara maju bisa mengakibatkan si pelaku diseret ke pengadilan hanya dianggapnya sebagai candaan biasa. Sayang sekali.

Saya sendiri sebenarnya tidak tahu banyak tentang gesture atau ungkapan verbal seperti apa yang bisa digolongkan sebagai pelecehan seksual. Sebagian besar saya hanya menggunakan intuisi tentang tindakan apa saja yang kira-kira bisa membuat seorang wanita menjadi tidak nyaman dan kemudian bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual.

Dulu, sebelum menikah saya juga menikmati obrolan-obrolan beraroma seks yang melibatkan kaum wanita. Rasanya memang ada sensasi tersendiri apabila mereka (kaum wanita itu) terlihat bersemangat menanggapi ocehan para lelaki seputar hubungan seks, meskipun itu hanya berupa joke-joke ringan. Namun, setelah menikah rasanya hal-hal seperti itu tidak menarik lagi. Saya seringkali merasa risih apabila dalam sebuah keramaian yang di dalamnya juga terlibat kaum wanita, perbincangan sudah mulai menyerempet masalah seks, apalagi bila bahasa yang digunakan sudah mulai tidak sopan. Saya mungkin masih bisa bertahan bila topiknya saya anggap masih bisa digolongkan sebagai edukasi atau pelurusan mitos. Tentu saja dengan pemilihan kata-kata yang lebih sopan.

Sayangnya saya melihat bahwa sebagian besar wanita di kantor saya masih sangat permisif pada hal-hal seperti ini. Mereka masih menganggap kalau joke-joke seputar seks meskipun itu melibatkan mereka sebagai objek adalah murni guyonan dan tidak perlu dianggap serius. Padahal tanpa mereka sadari, pada beberapa orang pelaku hal tersebut seakan membuka pintu baru untuk melakukan hal-hal yang lebih dalam dan kemudian lebih jelas menjurus ke arah pelecehan seksual.

Masalah terbesarnya mungkin ada di edukasi tentang pelecehan seksual itu sendiri. Sebagian besar teman-teman saya nampaknya belum paham benar tentang apa-apa saja yang bisa digolongkan sebagai pelecehan seksual, sehingga kemudian bersikap permisif.  Berbeda dengan perempuan-perempuan di negara maju yang sudah paham betul tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual.

Saya menilai kalau edukasi tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual (utamanya di lingkungan kerja) masih menempati urutan kesekian dalam kehidupan kaum wanita di Indonesia. Masih banyak hal lain yang lebih menuntut prioritas untuk dipikirkan. Sementara hal-hal tersebut terus saja terjadi di sekitar mereka dan bahkan menjadikan mereka sebagai obyek.

Saya bukannya mau munafik. Saya juga belum terlalu alim hingga kemudian selalu menundukkan pandangan bila bertemu wanita. Hanya saja, saya memang selalu mencoba untuk lebih menghormati wanita. Yah, walaupun sampai sekarang saya akui kalau saya masih sering menyakiti hati seorang wanita (baca: istri saya) tapi jauh dalam lubuk hati saya, saya terus berusaha untuk sedapat mungkin menempatkan wanita di tempat tertinggi. Dan ini juga yang sering membuat saya agak tidak nyaman berada dalam lingkungan yang sangat permisif pada praktek-praktek pelecehan seksual. Tapi yah, inilah Indonesia..

Dan satu lagi, sayangnya saya tidak atau belum bisa berbuat banyak untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi di lingkungan saya. Sebuah edukasi ringan yang coba saya lakukan kemudian dianggap sebagai reaksi berlebihan. Saya jadi bingung, harusnya ada sebuah langkah konkrit untuk masalah-masalah seperti ini. Atau,  masalah ini hanyalah masalah kecil yang tidak perlu terlalu dianggap terlalu serius seperti seriusnya kita menanggapi masalah-masalah lain yang lebih berat..?, ah rasanya koq saya tak rela bila masalah seperti dianggap tidak serius...

Entahlah...ah, betul-betul sebuah tulisan yang tak memberi solusi...maafkan saya..


Blog EntryThe Clash of TitansFeb 18, '08 8:55 PM
for everyone

Dalam waktu yang tidak lama lagi, daratan benua biru Eropa akan dihangatkan oleh pertarungan bergengsi antar 4 raksasa sepakbola dari dua negara yang jadi kutub utama sepakbola Eropa. Selasa dan rabu (19/20) Februari ini akan menjadi saksi awal siapakah dari keempat klub besar tersebut yang akan lolos ke babak perempat final European Champions League.

AC Milan dari Italy akan ditantang pasukan muda dari Inggris yang sedang hangat-hangatnya, Arsenal. Sementara itu Inter-yang saat ini sedang sangat menguasai liga Italia-akan ditantang salah satu legenda Liga Champion Eropa asal Inggris, The Reds Liverpool.

Dalam 2 tahun belakangan ini, rivalitas antar klub kedua negara memang sedang membara. Klub-klub dari Inggris dan dari Italia saling bertemu dan saling mengalahkan pula. Tahun lalu final bahkan mempertemukan dua kekuatan dari Inggris dan Italia. Ac Milan menekuk Livberpool sekaligus membalas sakit hati mereka 2 tahun sebelumnya saat dikalahkan dengan sangat dramatis di Istanbul. Sebelum partai final, ada 2 pertemuan antar klub-klub Inggris dan Itali di musim yang sama yang pantas untuk disematkan sebagai bara pemicu perseteruan abadi Inggris dan Italia.

Di fase grup, Manchester United sukses menyingkirkan AS Roma dengan skor mencolok di Old Trafford, 7-0 walaupun sebelumnya dipukul 2-1 di Olympico. Perseteruan MU dan AS Roma di lapangan hijau sekaligus berlanjut dengan perseteruan antar supporter di luar lapangan. Perseteruan yang menyebabkan beberapa supporter MU harus berurusan dengan polisi dan rumah sakit. Di semifinal, dengan aroma british yang kental (Inggris mengirim 3 wakilnya lolos ke semifinal), AC Milan sukses melewati hadangan MU lewat kemenangan 3-0 di San Siro meski kalah 3-2 di Old Trafford. Agak di luar dugaan karena sebagian besar pengamat menyakini akan terjadi duel sesama British di final.

Tahun ini, undian babak 16 besar ECL memaksa empat klub raksasa dari 2 negara tersebut harus bertemu lebih awal. Tak ada pilihan lain, vonis sudah dijatuhkan dan mereka harus berhadapan. Sangat disayangkan memang, karena seharusnya partai-partai seperti ini seharusnya terjadi di fase yang lebih jauh dan tidak sedini ini.

AC Milan Vs. Arsenal

Tahun ini , AC Milan memang agak keteteran di liga lokal. Mereka kalah jauh dari rival abadi sekota, Inter Milan. Penampilan yang fluktuatif memaksa mereka merevisi target menjadi hanya lolos ke Liga Champion musim depan. Berbeda dengan Arsenal yang saat ini unggul 7 poin dari MU di EPL.

Mungkin bisa dibilang kalau tahun ini, Arsenal memang sedang merekah. Arsene Wenger boleh dibilang sedang memanen buah dari kesabarannya membibitkan pemain-pemain muda penuh bakat. Kehilangan Thierry Henry di awal musim tak lantas membuat Arsenal patah arang. Emmanuel Adebayor siap menjadi pelontar peluru yang baru menggantikan si King Henry. Di tengah kemapanan Cesc Fabregas yang telah teruji selepas kepergian Patrick Viera bersanding dengan kemapanan milik Thomas Rosicky.

Masalah terbesar mereka mungkin hanya hantu cedera yang saat ini sedang membekap Rosicky dan Van Persie. Akibatnya, terakhir Arsenal harus takluk dari Manchester United di Old Trafford dengan skor telak 4-0 di lanjutan babak ke 5 piala FA. Dalam partai tersebut Arsene Wenger memang seakan sengaja mengistirahatkan beberapa pemain intinya, namun agaknya cukup naif bila mengatakan Arsenal sengaja melepas piala FA mengingat target mereka musim ini adalah treble winner.

Di tempat yang berbeda, AC Milan juga menghadapi masalah yang tak kalah pelik. Kehilangan konsistensi di setiap pertandingan kemudian disempurnakan dengan cedera parah yang kembali menghiggapi sang phenomenon, Ronaldo. Alexander Pato, bintang muda yang memberi harapan juga tak kalah sialnya. Cedera engkel saat menghadapi Fiorentina memaksanya istirahat sebelum bisa lebih banyak memberikan kontribusi.

Tapi tidak boleh dilupakan bahwa AC Milan-seperti halnya Real Madrid-adalah raja di Liga Champion. Kompetisi kasta tertinggi Eropa itu seakan-akan adalah habitat asli mereka. AC Milan akan tampil sangat luar biasa bila berlaga di Liga Champion. Dalam 7 tahun terakhir ini tercata AC Milan sebagai tim yang paling konsisten di ECL.

Menarik menantikan pertarungan antar “dua generasi” ini. AC Milan yang sebagian besar diperkuat pemain berusia di atas 30 tahun akan menghadapi tantangan darah muda milik Arsenal. Fokus utama mungkin akan berada di seputar aksi-aksi Kaka-pemain terbaik dunia 2007- dan Andrea Pirlo dari Milan dengan Cesc Fabregas dan Adebayor dari Arsenal.

Sebagai Milanisti, saya tentu akan berdiri di belakang Milan. Apalagi Arsenal adalah lawan utama klub favorit saya yang lainnya, Manchester United. Pengalaman dan kematangan bintang-bintang dari kota Milan ini yang dibarengi dengan “takdir” sebagai penguasa Liga Champion akan membuat mereka mampu melewati Arsenal.

Inter Milan vs Liverpool.

Di liga Italia, Inter Milan boleh jadi adalah raksasa yang baru bangun. Dominasinya sungguh luar biasa dan membuat tim-tim besar lainnya seperti Juventus dan AS Roma kewalahan mengejarnya. Namun bila bicara soal Liga Champion Eropa akan lain ceritanya. Inter nyaris tak punya urat dan tradisi yang kuat di ECL.

Kondisi ini berbeda bila dibandingkan dengan tetangganya, AC Milan dan bahkan dengan calon lawannya, Liverpool.

The Reds, Liverpool memang tak bersinar cemerlang di EPL . Mereka tenggelam dalam persaingan antar 3 klub besar lainnya, MU, Arsenal dan Chelsea. Praktis Liverpool hanya jadi penonton. Namun, bila bicara soal ECL nasib Liverpool berbeda. Dalam 3 tahun terakhir ini, Liverpool jadi tim Inggris yang paling stabil. Dua kali final dengan 1 gelar juara.

Rafael Benitez dituding tidak cocok dengan gaya permainan Inggris namun diakui mampu menaklukkan permainan tim-tim yang bertipe Eropa daratan. Mungkin ini alasan logis kenapa Liverpool bisa sukses di ECL namun selalu gagal di EPL.

Pertarungan kedua tim adalah pertarungan mental dan lebih ke pertarungan non teknis lainnya. Secara materi, kedua tim boleh disebut sejajar. Jejeran bintang-bintang mengkilap menghiasi daftar strting line-up mereka. simak nama-nama seperti Gerrard, Mascherano, Tores, Ibrahimovic, Stankovic, hingga Kuyt dan Viera. Jelas, pertarungan mereka akan jadi pertarungan penuh gengsi yang mungkin malah akan jadi pertarungan yang panas.

Sekali lagi, sebagai Milanisti saya tentu akan selalu mendoakan Inter gagal dan kesempatan Inter bertemu Liverpool adalah kesempatan besar untuk mewujudkan doa tersebut. Saya akan selalu mendukung klub manapun yang menghadapi Inter Milan, sama seperti saya selalu mendukung tim manapun yang menghadapi Brasil.

Jadi ?, siapkan fisik anda untuk memelototi aksi-aksi para bintang Eropa di layar kaca. Tak peduli klub manapun yang anda dukung, yang penting adalah...nikmati..!!!.


Blog EntryMereka yang mengiklankan diriFeb 4, '08 10:25 PM
for everyone

Jamur dan musim hujan adalah dua hal yang selalu berkaitan. Saat musim hujan tiba, cuaca yang lembab membuat jamur tumbuh dengan subur. Tapi, tahukah anda bahwa di tengah tingginya curah hujan di Makassar dalam dua bulan terakhir ini, ada “jamur” lain yang juga sedang tumbuh dengan subur ?. “Jamur” yang satu ini adalah spanduk dan baliho bergambar tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh masyarakat. Hampir di setiap perempatan jalan dan tempat-tempat strategis lainnya, spanduk-spanduk atau baliho-baliho tersebut terpasang dengan mencolok.

Penyebab menjamurnya spanduk dan baliho tersebut tidak lain adalah karena bulan November 2008 nanti kota Makassar untuk pertama kalinya akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, atau yang lazim disebut Pilkada. Dalam ajang ini, warga kota Makassar akan memilih sendiri secara langsung sosok yang akan menakhodai kota Makassar dalam 5 tahun ke depan.

Sampai saat ini memang belum ada yang secara resmi mengajukan diri sebagai kandidat calon Walikota. Namun, demi melihat sejumlah spanduk dan baliho yang bertebaran di segala sudut kota Makassar kita sudah dapat meraba kira-kira siapa saja yang berniat terjun langsung dalam pertempuran memperebutkan posisi Makassar 1 ini.

Salah satu calon yang nampaknya paling bersemangat dalam mengiklankan diri adalah Ilham Arief Sirajuddin, walikota incumbent saat ini. Baliho ataupun spanduk bernada dukungan terhadap Ilham yang akrab disapa Aco ini bertebaran di mana-mana. Bentuknya pun beragam, dari yang hanya sebuah spanduk kecil tanpa foto hingga sebuah baliho besar dengan gambar foto diri Ilham Arief yang lumayan berseni.

Untuk urusan persiapan, nampaknya kubu Ilham Arief Sirajuddin tidak mau main-main. Pendukung Ilham Arief nampak paling siap dalam membuat baliho dan spanduk. Kata-kata yang dipilih sungguh provokatif dan menarik. Contohnya kata-kata, “yang lain baru merencanakan, Ilham sudah membuktikan” atau “ Makassar makin maju, bukan cuma janji”. Di salah satu sudut Jl. Antang Raya juga ada sebuah spanduk berukuran sedang dengan tulisan “ Pamimping Sombereka: Majuki Daeng”, dalam bahasa Makassar tulisan ini bermakna, “Pemimpin yang ramah, maju terus daeng”. Spanduk ini dilengkapi dengan gambar potongan wajah Ilham Arief dalam bentuk siluet.

Baliho Ilham Arief Siradjuddin yang cukup artistik

Sementara itu di bilangan Jalan Toddopuli Raya Timur, sebuah baliho besar berukuran sekitar 3x5 m yang didominasi gambar wajah Ilham Arief Siradjuddin yang diberi efek scratch and dust dengan tone sephia nampak sangat mencolok dan cukup artistik. Tulisan besar di bawah fotonyapun tak kalah menarik. “ Majumi Makassarta’, Majuki’ Aco”. Jelas baliho ini ditujukan untuk memberi dukungan pada Ilham Arief untuk kembali maju mencalonkan diri sebagai Walikota Makassar.

Pendukung Ilham Arief Siradjuddin nampaknya cukup jeli menggunakan berbagai efek fotografi dan desain grafis sehingga baliho atau spanduk dukungan yang dihasilkan cukup beragam. Mulai dari yang tampak sederhana dan kaku hingga yang tampak cukup artistik. Selain foto, ada juga gambar sketsa kartun Ilham Arief Sirajuddin, bukti kreatifitas para pendukungnya.

Nah, siapa saja yang tampaknya akan menjadi saingan terberat Ilham Arief Siradjuddin untuk maju sebagai calon walikota Makassar ?. Bila indikatornya adalah spanduk dan baliho maka nampaknya untuk sementara ada dua nama yang bisa dijadikan saingan berat untuk Ilham Arief Siradjuddin.  Mereka adalah Idris Manggabarani dan Adil Patu. Kedua orang ini nampaknya juga punya persiapan yang cukup serius untuk menjegal langkah Ilham Arief Siradjuddin dalam pemilihan nanti.

Idris Manggabarani yang saat ini tercatat sebagai ketua DPD REI Sulawesi Selatan dan terkenal sebagai pengusaha di bidang real estate yang cukup terkenal di kota Makassar ini juga sudah menyiapkan beberapa spanduk dan baliho yang tujuannya jelas untuk semakin memperkenalkan sosoknya pada warga kota Makassar.

Di daerah Tamalanrea, tepatnya di perumahan Nusa Tamalanrea Indah dan Bukit Khatulistiwa, dua perumahan milik Idris Manggabarani, terpasang dua baliho besar. Kedua baliho ini adalah baliho yang mempromosikan kedua perumahan milik Nusasembada Bangunindo, perusahaan properti milih Idris Manggabarani. Uniknya, di samping gambar rumah yang dipromosikan terpampang juga foto sang pemilik perumahan dengan tulisan, “bersama membangun Makassar”.  Maksudnya sudah bisa ditebak, bukan ?.

Nampaknya Idris Manggabarani memegang teguh pepatah, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui” karena kedua baliho berukuran raksasa tersebut mempunyai dua fungsi. Selain mempromosikan perumahan miliknya bisa sekaligus mempromosikan dirinya. Selain baliho raksasa tersebut, spanduk-spanduk berukuran kecil dengan gambar Idris Manggabarani juga banyak terpasang di berbagai sudut kota Makassar.

Spanduk-spanduk kecil itu didominasi warna biru, warna khas Partai Demokrat yang menjadi kendaraan politik Idris Manggabarani dalam pertarungan nanti. Di atas foto Idris Manggabarani terpasang tulisan “I’M team” yang seolah menegaskan bahwa di kawasan tersebut terdapat sejumlah orang yang bertugas sebagai tim sukses Idris Manggabarani.  Selain itu, sejumlah kendaraan berhiaskan foto diri Idris Manggabarani dan tulisan “I’M team” juga sudah lama tampak berseliweran di kota Makassar.

Nah, bagaimana dengan Adil Patu ?. Tokoh dari Fraksi Partai Demokrasi Kebangsaan  yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPRD tk.II ini juga sudah mulai mensosialisasikan dirinya lewat berbagai baliho berukuran besar serta spanduk-spanduk kecil yang disebar di berbagai titik strategis di kota Makassar. Untuk tujuan suksesi Adil Patu mengusung jargon  “Save Our City”. Tidak jelas dia ingin menyelamatkan kota Makassar dari apa, atau bisa jadi Adil Patu menganggap saat ini kota Makassar sedang dalam ancaman sehingga perlu untuk diselamatkan.

Ada yang unik dari baliho milik Adil Patu. Beliau memamerkan doanya di padang Arafah yang berbunyi, “ Ya Allah, selamatkanlan Makassar dari segala macam bencana”. Tulisan ini sangat mencolok seolah-seolah menggambarkan bahwa beliau sangat peduli kepada Makassar hingga mendorongnya mengucapkan doa seperti itu di padang Arafah. Sayangnya beberapa dari baliho besar berisikan doa Adil Patu tersebut rubuh atau sobek tersapu angin kencang yang memang rajin meyambangi kota Makassar akhir-akhir ini. Nampaknya tim sukses Adil Patu kurang memperhitungkan kondisi cuaca dalam memasang baliho mereka.

Sementara itu calon-calon lain semisal Ridwan Syahputra Musagani, Busrah Abdullah dan lain-lain nampak masih malu-malu untuk mempromosikan diri sebagai calon walikota Makassar. Mereka masih berpromosi dengan menggunakan spanduk dan baliho berukuran kecil, juga beberapa stiker yang ditempelkan di becak atau tiang-tiang listrik dan telepon. Masalahnya mungkin adalah faktor dukungan finansial yang tidak sebesar kandidat lainnya sehingga terkesan langkah mereka masih malu-malu.

Sebagian politisi lainnya juga menggunakan momentum hari-hari besar keagamaan yang kebetulan berada dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh di bulan Desember dan Januari ini sebagai ajang promosi. Spanduk ucapan selamat Natal, Idul Adha, Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Hijriyah bertebaran di beberapa sudut jalan. Tidak hanya ucapan saja, namun sekaligus dilengkapi dengan foto, nama dan jabatan sang politisi. Tentu saja para politisi tersebut tidak mau melewatkan peluang sekecil apapun untuk mempersiapkan diri menjelang pertarungan sesungguhnya di bulan November nanti.

Kehadiran spanduk dan baliho ini sebenarnya cukup mengganggu keindahan kota karena sebagian besar dipasang dengan tidak teratur di beberapa sudut kota, beberapa diantaranya dipasang saling bertumpang tindih, seolah-olah berebutan untuk mengundang perhatian. Persis seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, tidak teratur dan mengganggu pandangan.

Spanduk-spanduk dan baliho ini ibarat sebuah genderang perang yang ditabuh bertalu-talu, mengingatkan segenap warga kota Makasar bahwa sebentar lagi sederet politisi ataupun tokoh masyarakat akan bersaing ketat merebut simpati warga kota demi ambisi menjadi penguasa ibukota propinsi Sulawesi Selatan ini. Segenap warga Makassar tentunya punya harapan yang sama bahwa sekeras apapun persaingan nantinya, semuanya bisa berjalan di koridor yang benar dan jauh dari segala kecurangan apalagi kerusuhan.


Blog EntryHukum itu seperti sarang laba-laba..Jan 31, '08 9:59 PM
for everyone
Tonde dan daeng Baco hanya bisa diam saat diinterogasi

Pagi itu matahari cerah, namun tidak begitu dengan suasana hati Tonde, seorang lelaki berumur 40-an tahun yang berasal dari Kabupaten Bantaeng. Tonde yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kasar pada proyek perumahan Bukit Baruga nampak murung. Tubuh kecilnya yang dibalut kulit coklat tua nampak lemas seakan tak bertenaga. Di sekitarnya beberapa orang lelaki tegap berseragam putih biru dengan tulisan Security menatapnya dengan tatapan tajam.

Pagi itu Tonde tertangkap tangan mencuri sekarung penuh besi angkur milik kontraktor perumahan mewah tersebut. Pagi itu saat hendak memasang kusen alumunium, para tukang kebingungan karena tidak bisa menemukan angkur yang seharusnya terpakai untuk merekatkan kusen pada beton kolom. Setelah dicari kesana kemari, akhirnya didapatkan informasi kalau angkur itu ada dirumah daeng Baco, seorang pekerja lainnya yang menetap di bangunan darurat di sekitar lokasi proyek.

Daeng Baco biasanya memang menjadi penadah besi-besi bekas yang dijual para pekerja. Setelah besi tersebut terkumpul cukup banyak, dia akan membawanya ke penadah yang lebih besar. Namun rupanya, pagi itu dia juga bernasib sial. Daeng Baco tak menyangka kalau sekarung besi yang dibawa Tonde-salah satu pelanggannya-adalah besi yang masih terpakai.

Berita penemuan besi angkur ini di rumah daeng Baco segera menjadi berita yang menghebohkan. Satpam segera dihubungi dan dengan cepat Tonde sebagai pelaku dan daeng Baco sebagai penadah segera diamankan di salah sebuah warung yang berada dalam lokasi proyek. Tak butuh waktu lama sebelum para satpam yang sedang bertugas pagi itu segera berkumpul di lokasi kejadian.

Seorang satpam tanpa tanggung-tanggung segera melayangkan bogem mentahnya ke wajah Tonde. Nampaknya dia kesal karena selama ini para satpam memang selalu menjadi pihak yang disalahkan setiap kali ada kejadian pencurian di lokasi perumahan tersebut, dan dengan segera Tonde menjadi pelampiasan kekesalan mereka. Selama ini berita kehilangan barang-barang di lokasi proyek memang bukan barang baru lagi. Beberapa kontraktor yang bekerja di lokasi tersebut mengaku telah sering kehilangan material walaupun sebagian besar memang hanya berupa barang-barang kecil semisal tripleks atau besi-besi beton.

Tonde sendiri sudah bekerja sebagai buruh kasar di perumahan tersebut selama hampir sebelas tahun dan selama ini dia tak pernah kedapatan berbuat yang macam-macam. Semua satpam, pengawas dan pekerja mengenalnya sebagai pribadi yang sederhana dan tak banyak bicara. Makanya mereka juga agak kaget mendapati kenyataan kalau Tonde mencuri.

Dengan terbata-bata campuran antara rasa takut dan rasa sakit di wajahnya Tonde menjelaskan kronologis kejadian tersebut. “ kukana nakke anu tenamo na nipakei, pak..”, katanya dengan nada bergetar. Dalam bahasa Indonesia, kira-kira berarti : saya kira barang itu sudah tidak terpakai lagi pak. Sayangnya jawaban Tonde itu hanya membuat satpam yang menginterogasinya menjadi makin kesal. Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipinya, membuat pipi itu kini menjadi merah dan agak bengkak.

Menurut beberapa orang di lokasi proyek, Tonde memang sudah sering mengumpulkan besi-besi bekas, sebagian besar adalah sisa potongan besi beton atau terkadang juga besi beton hasil bongkaran yang memang suda tidak terpakai. Tonde yang bersama rombongannya tinggal di rumah-rumah darurat di pinggiran lokasi proyek mengatakan kalau besi-besi bekas yang terkumpul itu kemudian dibawanya ke penadah yang tak lain adalah temannya sendiri, daeng Baco. Untuk sekilo besi bekas, Tonde mendapatkan bayaran Rp. 1.000-1.500.

Rabu sore ketika para pekerja sudah bubar, sekitar pukul setengah enam sore Tonde membawa pulang sekarung besi angkur yang dikiranya sudah sudah tidak terpakai itu. Salahnya adalah karena sore itu Tonde mengambil sekarung besi angkur itu dalam rumah yang belum selesai. Alasan ini juga yang membuat para satpam makin kesal. Mereka menganggap alasan Tonde tak masuk akal. Barang-barang yang masih berada dalam rumah yang sementara dikerjakan jelas adalah barang-barang yang masih terpakai, berbeda dengan barang-barang yang dibiarkan berserakan di halaman atau di pinggir jalan. Sekali lagi tamparan mendarat di wajah Tonde diiringi bentakan dengan nada kasar dari Satpam yang sedang menginterogasinya.

Siksaan bagi Tonde untungnya tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian komandan satpam tiba di lokasi. Lelaki tegap berkumis tebal pensiunan tentara ini dikenal sebagai sosok yang cukup bijaksana. Pak Hammado, sang komandan segera menetralkan suasana. Beberapa orang satpam yang sudah mulai tidak terkontrol emosinya segera diperintahkannya untuk kembali ke pos. Dengan sigap pak Hammado segera mengumpulkan informasi dan memulai interogasi pada kedua pelaku yang duduk mengkerut seperti dua ekor kucing yang baru saja tersiram air.

Setelah mengumpulkan informasi, Pak Hammado mengambil keputusan untuk membawa kedua pelaku beserta barang buktinya ke kantor polisi sektor Manggala. Keputusan ini jelas membuat wajah Tonde dan daeng Baco makin suram. Terbayang di kepala mereka masalah yang lebih besar yang akan menimpanya. Daeng Baco dengan setengah memohon meminta kebijaksanaan dari sang komandan satpam. Dia mengaku tak tahu menahu kalau barang tersebut-yang dihargainya sebesar Rp. 12.500,- adalah barang yang masih terpakai.

“ tenami antu katallassangku pak, punna kieranga ri kantoro polisia “, begitu kata daeng Baco dalam bahasa Makassar logat Bantaeng yang kental. Penghidupan saya akan habis pak kalau sampai saya dibawa ke kantor polisi, artinya kira-kira seperti itu. Jelas sekali terbayang masalah besar yang bakal menghadangnya bila persoalan itu sampai melibatkan polisi. Tonde sendiri nampaknya hanya bisa pasrah, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran. Tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya.

Berurusan dengan polisi di negeri ini bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang paling dihindari. Untuk mengurus surat-surat atau melaporkan sesuatu saja, repotnya bukan main. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan, jadi bisa dibayangkan masalah apa yang akan dihadapi bila berurusan dengan polisi dengan membawa status sebagai tersangka. Dalam diamnya yang penuh kegalauan, Tonde dan daeng Baco pasti sangat menyesali tindakan bodohnya.

Hampir saja kedua orang tersangka pencuri dan penadah itu diangkut ke kantor polisi bila saja tidak dicegah oleh seorang pengawas perumahan Bukit Baruga bernama pak Syarifuddin. Pak Syarif-begitu dia biasa disapa-memberikan pertimbangan perihal masalah dan kerepotan yang lebih besar yang akan menimpa mereka bila masalah itu sampai dibawa ke kantor polisi.

Pak Syarif memberi pertimbangan kalau sampai masalah itu dibawa ke kantor polisi, bukan saja kedua tersangka itu yang akan menginap di kantor polisi, namun besi angkur itu juga pasti harus menginap sebagai barang bukti dalam waktu yang tak sebentar. Padahal besi angkur tersebut adalah bagian yang tak boleh lepas dalam proses pemasangan kusen baja. Menginapnya besi tersebut sebagai barang bukti tentu saja membuat proses pemasangan kusen akan terhambat dan tentu mempengaruhi proses pekerjaan secara keseluruhan, apalagi barang tersebut harus dipesan khusus dari Surabaya.

Pertimbangan lain yang diungkapkan pak Syarif adalah alasan kemanusiaan. Tonde dan daeng Baco yang sudah hampir 11 tahun mencari makan di Bukit Baruga selama ini dikenal sebagai orang-orang yang baik, tak pernah terlibat tindakan kriminal atau tindakan-tindakan merugikan lainnya. Kejadian kali ini dianggap sebagai sebuah tindakan khilaf. Pak Syarif sekaligus menyalahkan pemilik besi angkur tersebut. Seharusnya barang-barang yang masih terpakai disimpan dengan baik di dalam gudang selepas jam kerja agar tidak dicuri orang. Yah, kejahatan memang terjadi bukan hanya karena adanya niat, tapi juga karena adanya kesempatan.

Akhirnya setelah melalui musyawarah antara pengawas, kontraktor dan komandan satpam disepakati kalau kasus ini diselesaikan di tempat saja tanpa harus melibatkan polisi. Komandan satpam membuatkan surat pernyataan untuk ditandatangani oleh kedua pelaku. Kalau sampai mereka berdua tertangkap basah mengulangi perbuatannya, maka tak akan ada ampun lagi buat mereka. Tonde dan daeng Baco yang buta huruf membubuhkan cap jempol di atas surat pernyataan tersebut. Jelas sekali rasa lega tergambar di wajah mereka. Tonde dan daeng Baco menjabat erat tangan pak komandan satpam saat dilepaskan dan disuruh kembali bekerja. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih.

Kasus-kasus seperti ini terkadang menjadi dilema tersendiri bagi satpam. Di satu sisi mereka adalah petugas-petugas yang dibenani tanggung jawab untuk menjaga keamanan, namun di sisi lain rasa kemanusiaan mereka terusik juga, utamanya bila mereka mengenal baik atau malah akrab dengan pelaku. Ditambah dengan kenyataan bahwa barang yang dicuri itu hanya laku dijual seharga Rp. 12.500,-  jumlah yang tentunya sangat kecil bila dibandingkan dengan resiko yang harus diambil.

Begitulah, hukum memang bisa dianalogikan sebagai sarang laba-laba. Sangat rapuh untuk benda-benda besar yang bisa menerobosnya dengan gampang, namun sangat kuat untuk memerangkap benda-benda kecil yang mencoba melewatinya. Terkadang kita dengan gampangnya menangkap, mengadili dan mengeksekusi para pelanggar kriminal rendahan yang sebagian besar melakukan tindakan kriminalnya dengan alasan ekonomi. Sementara para pelaku kriminal kelas kakap, para koruptor, pembalak liar dan semacamnya bisa menikmati hasil jarahan mereka dengan nyaman dan tak tersentuh hukum sama sekali. Ironis memang.

 


Blog EntryTersedot magnet SuhartoJan 28, '08 9:03 PM
for everyone

Minggu (27/1) siang sekitar jam 14.30 lewat, saya sedang menunggu siaran “One Stop Football “ di Trans7 ketika tiba-tiba Trans 7 menampilkan breaking news. Saya sudah langsung menebak kalau ini pasti berita tentang kondisi Suharto. Selama hampir sepanjang bulan Januari ini, berita tentang Suharto yang sedang dirawat di Rumah Sakit menjadi main menu di setiap acara bertajuk “News” di semua stasiun TV di tanah air.

Dan benar juga, breaking news siang itu menampilkan berita terakhir tentang kondisi Suharto. Kondisi terakhirnya adalah, Wafat.. Suharto akhirnya tutup usia di hari Minggu 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB. Akhirnya...itu kata pertama yang keluar menyusul ucapan Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Yah, akhirnya selesai sudah perjuangan Suharto selama hampir sepanjang bulan Januari ini. Alat-alat canggih buatan manusia yang selama ini membantunya memperpanjang umur beberapa hari sudah tak berkutik lagi melawan titah sang Maha Pencipta.

Kepergian Suharto-bahkan sejak sakit sekalipun-meninggalkan banyak cerita dan kerepotan. Ratusan wartawan dalam dan luar negeri mendadak menjadi Bang Toyib yang tak pulang-pulang ke keluarga mereka karena harus stand by 24 jam di RSPP. Para pejabat dan mantan pejabat juga satu persatu menunjukkan simpati dengan datang membesuk atau sekedar mengirim bunga dan do’a untuk kesembuhan Suharto. Polemik sekitar kasus korupsinya juga merebak bak bunga di musim semi. Singkatnya seluruh perhatian media tersedot ke RSPP memonitor perkembangan kesehatan Suharto, dan ujung-ujungnya masyarakat penikmat media mau tak mau ikut larut mengkonsentrasikan energinya ke RSPP, sebagian bahkan lupa kalau pada saat yang hampir bersamaan, harga kedelai melambung tinggi membuat tempe goreng di warung pinggir jalan naik menjadi Rp. 500,- per potongnya.

Puncak daya tarik magnet besar bernama Suharto itu adalah saat beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Dari mulai jam 14.00 siang WITA sampai malam hari dan kemudian disambung keesokan harinya (bahkan malam ini saat saya sedang menulis postingan ini) semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkan potongan-potongan berita tentang Suharto. Judulnya macam-macam, ada yang “Suharto : in memorian”, “Akhir perjalanan Suharto”, atau apalah namanya..

Senin pagi, mulai jam 7 WITA semua stasiun TV sudah siap-siap untuk stand by menyiarkan proses pemakaman Suharto. Anak saya-Nadaa sempat protes karena kartun kesayangannya (Avatar-the legend of Aang) tidak disiarkan seperti biasa karena Global TV juga ikut-ikutan arus menyiarkan prosesi pemakaman. Oya, mungkin karena seringnya menonton berita di TV, Nadaa yang baru berusia 3 tahun lebih sampai ikut-ikutan berkomentar, “ Bunda..pak Harto meninggal..”, walaupun yakin dia tak kenal dan tak tahu siapa Suharto dan apa itu meninggal.

Tiba di kantor hampir pukul 8 pagi, ternyata di Lobby depan-yang memang ada TV-nya- sudah bersiap beberapa orang karyawan yang terus memantau detik demi detik perkembangan persiapan pemakaman. Saya tidak begitu menghiraukan. Acara ini bagi saya adalah sebuah seremoni biasa yang tidak terlalu menarik. Kematian toh akhirnya akan datang lagi, cepat atau lambat. Hanya saja bedanya karena kali ini yang mati adalah orang yang pernah sangat berkuasa dan kebetulan mati di saat media Indonesia sedang genit-genitnya, maka tak heran segala persiapan pemakamannya yang memang luar biasa itu jadi santapan seragam seluruh media Indonesia.

Lewat pukul delapan dan menjelang pukul sembilan pagi, setelah selesai mengecek imel dan membalas beberapa yang perlu saya melongok ke Lobby, ternyata Lobby sudah makin ramai. Penonton sudah memasuki jumlah 2 digit. Yang membuat suasana makin ramai adalah komentar dari para penonton. Semua tentang Suharto, tentang kenangan-kenangan selama berada di bawah pemerintahan Suharto, tentang proses pemakaman itu sendiri, pokoknya ramai walaupun temanya sama, Suharto.

Saya tidak berlama-lama di Lobby. Siaran televisi yang isinya sama saja dengan siaran kemarin sore dan tadi malam dengan segera membuat saya bosan. Saat meninggalkan lobby dan kembali ke ruangan saya masih bisa menangkap satu-dua komentar dari para penonton. Suasana ini sedikit mengingatkan saya pada acara siaran langsung sepakbola piala dunia 2002, bedanya kali ini tidak disertai dengan teriakan dan sorak sorai penonton.

Kesetiaan para penonton rupanya betul-betul diuji. Perjalanan jenazah Suharto dari Halim Perdana Kusuma ke Adi Sumarmo-Solo memakan waktu yang lumayan lama. Untuk mengisi waktu stasiun TV menayangkan beberapa potongan gambar berisi kenangan bersama Suharto. Cukup lama dan bagi saya membosankan, namun tidak bagi para penonton yang sedari tadi duduk manis depan TV di lobby kantor kami.

Saya sudah beberapa kali bolak-balik ke ruangan kerja, ke smoking room dan ke toilet namun nampaknya para penonton tak surut semangatnya. Makin siang, jumlah penonton makin bertambah.

Menjelang pukul 10 siang, boss kami datang. Beliau hanya ikut bergabung sebentar sebelum akhirnya berlalu entah ke mana. Reaksi para penonton adem ayem saja, agak di luar kebiasaan karena biasanya kerumunan karyawan yang bersantai di jam kerja dipastikan akan langsung terbongkar begitu sang Boss datang mendekat. Menurut analisa saya ada tiga hal yang jadi penyebab ketidakbiasaan ini.

Pertama, karena kematian Suharto adalah sebuah magnet yang sangat kuat sehingga membuat sebagian besar masyarakat Indonesia betah berlama-lama di depan TV menunggu detik-detik jenazah Suharto diturunkan ke liang lahat. Kedua, karena bagi semua karyawan di kantor kami, ini adalah kali pertama menyaksikan prosesi pemakaman seorang mantan presiden. Sebagian dari kami belum lahir saat Sukarno mangkat tahun 1970, sebagian lagi masih terlalu kecil untuk mengingat kejadian itu dan mungkin juga karena waktu itu kecepatan media belum seperti sekarang.

Nah, analisa ketiga saya adalah karena pada saat bersamaan di lobby kantor kami juga ikut serta sang manager personalia. Beliau juga termasuk dalam deretan para penonton setia yang menantikan detik detik pemakaman. Alasan beliau, kan ndak setiap hari ada acara seperti ini.

Dan akhirnya saya sampai pada kesimpulan kalau ketiga alasan saya itu benar dan saling membenarkan.

Namun ternyata, jumlah penonton yang makin bertambah juga membuat sang Boss agak jengkel. Menjelang pukul 12 siang, saat acara pemakaman belum juga digelar, turun titah dari sang Boss melalui sekertarisnya. Acara nonton bareng harus dihentikan..!!!, semua harus kembali ke kerjaan masing-masing. Maka, tanpa menawar lagi para penonton bubar jalan meninggalkan lokasi nonton bareng. TV dimatikan dan kursi-kursi dibereskan. Dalam sekejap lobby kembali sunyi seperti seharusnya.

Apakah para penonton setia itu lantas langsung menyerah ?. Ternyata tidak saudara-saudara..beberapa orang dari mereka membentuk sebuah komplotan. Secara bergerombol mereka menuju ke sebuah warung makan (tepatnya warung kopi) yang ada di Ruko dekat kantor. Mereka semua itu adalah ibu-ibu dan remaja putri yang nampaknya sangat bersemangat ikut mengantar Suharto hingga ke peristirahatannya yang terakhir. Kalau saja jarak Astana Giri Bangun itu tak harus menyeberang lautan saya yakin mereka pasti akan langsung menuju ke sana. Itu setelah melihat antusiasme mereka.

Akhirnya rombongan “penggemar acara pemakaman” itupun memuaskan hasrat mereka di warung kopi dekat kantor. Mungkin sekalian dengan menyantap suguhan minuman ringan dan cemilan-cemilan. Sebuah antusiasme, fanatisme, ato isme-isme lainnya yang saya kira sangat patut untuk dikagumi. Nampaknya tak ada satupun halangan yang mampu menyurutkan niat untuk mengantar Suharto ke peristirahatannya yang terakhir. Diam-diam saya berdecak kagum pada kegigihan kelompok ini.

Pukul dua siang, rombongan itu kembali ke kantor dengan wajah-wajah penuh kepuasan seakan-akan baru saja pulang mengunjungi salah satu keajaiban dunia. Sebagian dari mereka kemudian menceritakan suasana pemakaman kepada teman-teman lain yang tak sampai “segila” mereka.

Dan begitulah, betapa magnet seorang Suharto ternyata sangat besar. Bukan saja pada masa pemerintahannya yang memaksakan dirinya sebagai pusat gravitasi segala hal yang terjadi di Indonesia, namun juga saat kematiannya yang mampu membuat sebagian orang menjadi betul-betul terseret dalam pusaran pemberitaan tentang dirinya.

Ah, selamat jalan pak..semoga dosa-dosa anda diampuni Yang Maha Pengampun..

 


Blog EntryMihrab yang dibangun asal-asalanJan 28, '08 8:18 PM
for everyone

HABIBURRAHMAN EL-SHIRAZY, para penggemar novel di Indonesia tentu sudah sangat mengenal nama ini. Namanya menjadi cukup fenomena selepas kesuksesan novelnya “Ayat-ayat cinta” yang sudah terjual puluhan ribu kopi dan sudah dikembangkan menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama.

Saya sebenarnya cukup penasaran dengan novel ini, sampai sekarang saya belum sempat sekalipun membacanya, demikian juga dengan novel berikutnya yang juga tak kalah suksesnya, Di atas sajadah cinta.

Nah, hari Jum’at kemarin istri saya kebetulan dapat pinjaman sebuah novel karya Habiburrahman yang lain, judulnya “Dalam mihrab cinta”. Tadinya saya mengharapkan ekspresi takjub dari istri saya setelah membaca bab demi bab dari novel ini, namun ternyata ekpresi yang saya dapatkan berbeda. Istri saya tergeli-geli sendiri setelah menghabiskan beberapa lembar dari novel ini. Penasaran, saya pun ikut membacanya. Dan hasilnya, saya juga ikut-ikutan tergeli-geli. Sebuah kekompakan yang tidak disengaja.

“Dalam Mihrab Cinta” adalah sebuah novel berisi 3 novelet dengan cerita dan setting yang berbeda. Secara tampilan buku ini sangat menarik. Sampulnya hard cover dengan gambar masjid Putra Jaya, Malaysia di depannya. Namun sekali lagi pepatah “Doon’t judge a book by it’s cover” terbukti. Cover yang bagus dan mentereng ternyata tidak membuat isinya juga ikut mentereng.

Cerita pertama dari novel ini berjudul, “ Takbir Cinta Zahrana”, berkisah tentang kisah kehidupan seorang dosen (belakangan turun pangkat jadi guru) bernama Zahrana. Lulusan S1 teknik sipil UGM kemudian melanjutkan kuliah S2 di ITB dan berlabuh di sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal di kota Semarang. Secara fisik Zahrana digambarkan cukup mapan dengan karir yang mengkilap. Namun, hal yang selalu mengganjal beban pikirannya adalah karena di usianya yang sudah cukup dia belum juga bertemu jodoh seperti yang diharapkannya.

Ide ceritanya sebenarnya cukup unik, walaupun terus terang sangat “sinetron style”. Ceritanya bukan barang baru bagi anda yang sering menonton sinetron atau telenovela di televisi. Sampai di sini saya mengerti kenapa karya Habiburrahman bisa disadur menjadi sebuah sinetron di Trans TV beberapa waktu yang lalu.

Dengan cepat “Di Dalam Mihrab Cinta” jatuh dalam kemalasan untuk menggambarkan sebuah detail. Alur cerita yang sebenarnya unik tidak disertai dengan eksekusi dan detail yang mencukupi sehingga cerita pertama ini seakan-akan menjadi sangat-sangat lancar untuk ukuran sebuah cerita fiksi. Ibaratnya anda sedang mengendarai sebuah mobil Ferrari di atas sebuah jalan antar negara bagian di Amerika Serikat. Jalanannya sepi dan di kanan-kiri hanya ada padang Savana yang tandus. Dengan segera anda bisa memacu Ferrari anda dengan sampai limit tertingginya, namun beberapa menit kemudian anda akan mulai merasa bosan dengan pemandangan dan keadaan jalannya. Yah, lancar namun membosankan.

Membaca beberapa halaman pertama dari cerita ini kita sudah bisa langsung tahu endingnya. Sehingga kemudian halaman-halaman yang lain serasa sia-sia dan mubazir. Gaya bertuturnya juga sangat-sangat sederhana, mengingatkan saya pada karangan-karangan saya jaman masih SMP. Tidak ada letupan, dan datar sama sekali.

Sebenarnya ada beberapa bagian cerita yang bila diekskusi dengan baik akan mampu membuat kita larut, sayangnya itu tidak dilakukan. Sebaliknya ada beberapa bagian yang kemudian dijelaskan dengan cukup panjang lebar, padahal sebenarnya tidak perlu karena kemudian meninggalkan kesan sia-sia. Kesannya cerita ini terlalu meributkan hal remeh-temeh dan meninggalkan hal-hal yang sebenarnya lebih penting. Sayang sekali..

Cerita kedua, “Dalam Mihrab Cinta” dan cerita ketiga “Mahkota Cinta” pun sama parahnya. Kita akan langsung tahu jalan ceritanya seperti apa dan endingnya seperti apa. Saya rasa sang penulis memang mencintai pembacanya sehingga kemudian berusaha membuat para pembaca tak perlu bersusah payah untuk menebak-nebak akhir cerita.

Alur cerita masih sangat sinetron style, deskripsi dan metafora masih sangat kering. Unsur kejutan ?, hmmm....saya hanya terkejut karena ternyata saya bisa menahan tawa agar tidak meledak sampai selesai membaca novel ini. Sebenarnya tidak bisa dibilang selesai membaca karena saya sengaja melompat-lompat dari halaman yang satu ke halaman yang lain. Toh, endingnya sudah saya tebak (dan tebakan saya benar) dari awal, buat apa bersusah-susah membaca halaman demi halamannya, hanya membuang-buang waktu saja..

Sialnya, novel ini malah membuat saya makin penasaran untuk membaca “Ayat-ayat cinta” dan “Di atas sajadah cinta”. Saya berpikir kalau kedua novel yang laku keras dengan jumlah penjualan berpuluh-puluh ribu kopi itu ternyata dieksekusi dengan cara yang sama menyedihkannya dengan “Dalam mihrab cinta” maka pasti ada yang salah. Ciklit dan teenlit yang kadang dipandang sebelah matapun saya kira masih lebih sudi untuk bekerja lebih keras menggarap detail sebuah cerita.

Di saat yang bersamaan saya sedang membaca sebuah karya Pramoedya, “Bukan Pasar Malam” dan “Jalan raya pos, jalan Daendels” dan saya mengira-ngira kalau penilaian saya atas karya Habiburrahman ini terbit karena secara tidak sengaja saya membandingkannya dengan karya Pram. Salah saya memang, karena membandingkan karya kedua orang ini ibarat membandingkan sinetron karya Multivision Plus dengan film karya Garin Nugroho..sangat njomplang..

Ah, sayang sekali..untung buku “Dalam Mihrab Cinta” ini punya orang dan saya tidak perlu mengeluarkan sepeser rupiahpun untuk membacanya, sebab kalau tidak saya pasti akan menangisi rupiah saya yang terbuang sia-sia.

Satu lagi, kalau suatu hari nanti saya berhasil membuat novel maka saya berjanji akan mencantumkan nama Habiburrahman Al-Shirazy di bagian ucapan terima kasih. Novelis ini telah mengilhami saya kalau ternyata..... membuat novel itu gampang..!!!.